Oleh: ahmadnurcholish | September 16, 2013

Etika Dakwah dalam Masyarakat Majemuk

Etika Dakwah dalam Masyarakat Majemuk

“Serukanlah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana,  nasehat yang baik, dan berargumentasilah dengan mereka secara lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui atas orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl [16]:125).

 

Entah sudah berapa kali kita mendengar ceramah atau dakwah yang seharusnya mencerahkan dan memberi ketenangan, tetapi justru menggema dengan nuansa penghinaan, melecehkan, bahkan hasutan yang cenderung provokatif.

stiker islam ramahPernah suatu malam dalam rangka peringatan hari besar Islam yang dihelat di sebuah masjid di Tangerang, penulis menyimak dengan seksama. Seorang pendakwah menyampaikan materi ceramahnya dengan nuansa penghinaan terhadap seorang tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat, karena pendapat dan pikirannya yang dianggap bersebrangan dengan pemahamannya. Celakanya, materi dakwah yang disampaikan di hadapan ratusan jamaah tersebut tidak berdasarkan verifikasi fakta dan data yang akurat, melainkan bersumber pada sebuah buku yang didasarkan pada gossip dan tuduhan belaka.

Di hari yang lain ketika mendengar khotbah Jumat di sebuah mesjid di Jakarta, penulis juga mendengar materi khotbah dengan nada serupa. Padahal, sang Khotib mestinya mengerti, bahwa khotbah Jumat disyariatkan bukan untuk menebarkan kebencian dan penghinaan, melainkan untuk mencerahkan umat agar cerdas dalam beragama dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Khotbah juga harus berisi tentang pesan-pesan ketauhidan, kesaksian atas kerasulan Nabi Muhammad Saw dan perintah takwa. Dalam khotbah Jumat, hal yang mesti disampaikan, terutama dalam konteks Indonesia yang majemuk,  adalah pesan untuk membangun solidaritas social, baik dalam intra-agama maupun antar-agama.

Nampaknya masih ada persoalan dalam hal memahami paradigma dan etika dakwah dalam Islam. Surat al-Nahl ayat 125 di atas penting untuk dihayati kembali maknanya. Ayat tersebut dapat kita jadikan acuan untuk memahami tujuan, metode sekaligus etika dalam berdakwah. Artinya, sebagaimana dipaparkan Zuhairi Misrawi (2007: 259), dakwah tidak hanya cukup berbekal penampilan yang hanya mampu membangkitkan emosi kolektif umat. Dakwah seyogyanya juga dapat menyampaikan pesan-pesan universal agama sembari mengajak umat memahami ajara, tradisi dan konteks keumatan dengan baik, tepat dan benar.

Dalam ayat tersebut, imbuh Zuhairi, setidaknya terdapat empat hal penting yang patut dijadikan etika dalam berdakwah. Pertama, dakwah dengan hikmah. Dakwah sebagai cara untuk memahami ajaran Tuhan yang Mahaluas dan Mahakaya membutuhkan hikmah. Artinya, hikmah merupakan unsur determinan dan dominan dalam dakwah. Tiadanya pendekatan hikmah, maka dakwah tidak akan mengungkap kebaikan dan kebenaran, tetapi sebaliknya bisa menjadi pemicu tindakan aarki sebagaimana terjadi di banyak tempat. Maka dari itu, Nabi Muhammad Saw dikarunia hikmah (QS. al-Baqarah [2]: 23, 24, 129, 151), sebagaimana Nabi-nabi terdahulu juga mendapatkan hikmah (QS. al-Baqarah: 251).

Kedua, dakwah dengan nasehat yang santun (bi al-mau’idzat al-hasanah). Jika yang pertama menekankan aspek akal budi dan argumentasi yang kuat, maka tahap berikutnya terletak pada metode penyampaian. Pemikiran atau gagasan yang argumentative, tapi jika tidak disampaikan dengan cara yang santun dan elegan, maka bukan tidak mungkin justru akan menimbulkan dampak negative. Bahkan poin penting yang hendak disampaikan kepada audiens tidak akan sampai kepada sasaran karena metodenya yang tidak santun.

Imam al-Razi menafsirkan al-mau’idzat al-hasanah sebagai bentuk lain dalil sekunder yang posisinya berada di bawah argumentasi yang kuat (Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghayb, Jilid X, 142). Artinya, dakwah juga bisa menggunakan dalil sekunder. Dalam hal ini, selain akal budi diperlukan untuk mempertimbangkan aspek audiens dan konteks. Oleh karena itu, berdakwah di Saudi Arabia yang masyarakatnya monolitik, berbeda dengan dengan dakwah di Indonesia yang masyarakatnya plural.

Ketiga, debat yang konstruktif dan inovatif (wa jadilhum bi allati hiya ahsan). Al-Qur’an berpesan agar debat harus kreatif dan inovatif, dengan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan yang terbaik pula. Ada pesan yang perlu kita cermati dalam ayat tersebut, bahwa dalam debat harus mempertimbangkan kebaikan. Debat berbeda dengan dakwah. Karenanya, dalam depat harus menggunakan cara-cara yang lebih elegan daripada dakwah. Imam al-Razi kembali mengingatkan, bahwa debat yang konstruktif amat diperlukan karena depat mempunyai karakter untuk menundukkan lawan debat. (Ibid).

Imam al-Zamakhsyari memaknai debat kreatif dan inovatif yaitu memilih cara terbaik dalam debat, yang diantara cirinya identik dengan apresiasi terhadap pendapat orang lain, lemah-lembut dan tidak menggunakan kata-kata yang kasar dan tidak pantas, terutama kata-kata penghinaan, provokasi yang dapat memantik tindakan kekerasan. (Tafsir al-Kasysyaf, Jilid II, 619).

Keempat, teologi “Tuhan Mahatahu” atas jalan yang sesat dan jalan yang benar. Teologi ini merupakan puncak dari dakwah dan debat. Dakwah dan debat hanyalah cara untuk menangkap dan memahami hakikat pesan Tuhan. Jalan menuju Tuhan harus dilakukan dengan cara-cara yang terbaik: argumentative, elegan dan konstruktif. Sebaliknya, jika dilakukan dengan serampangan, emosional dan destruktif, maka akan menimbulkan masalah besar, yakni konflik social. Maka dari itu, simpul Zuhairi, pada akhirnya dakwah dan debat harus direm dengan pandangan teologis, bahwa Tuhan Mahatahu dan Dialah yang menentukan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Wallahu a’lam.

[Ahmad Nurcholish, aktivis Indonesian Conference On Religion and Peace]

Oleh: ahmadnurcholish | Juli 29, 2013

Guru Minta Buku Ajar Kurikulum 2013 Diperbaiki

Guru Minta Buku Ajar Kurikulum 2013 Diperbaiki

Seorang siswi menunjukan buku pelajaran baru kurikulum 2013 di SMA 68 Jakarta (15/07). Di mulai hari ini Kemendikbud menerapkan kurikulum baru 2013 saat seluruh siswa dan siswi masuk sekolah hari pertama. TEMPO/Dasril Roszandi

Seorang siswi menunjukan buku pelajaran baru kurikulum 2013 di SMA 68 Jakarta (15/07). Di mulai hari ini Kemendikbud menerapkan kurikulum baru 2013 saat seluruh siswa dan siswi masuk sekolah hari pertama. TEMPO/Dasril Roszandi

Yogyakarta- Instruktur nasional pelatihan materi kurikulum 2013 bagi para kepala sekolah SMK di DIY,  Aragani Mizan Zakaria mengatakan banyak guru SMK mengeluhkan konsep buku materi pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah terlalu sederhana. Kata dia sejumlah guru SMK kelas X di dua pelajaran ini menilai isi materinya terlalu sederhana jika dibandingkan dengan tujuan pembelajaran yang harus mendorong siswa membangun cara berfikir untuk memecahkan masalah, mengelola kelompok kerja dan menginisiasi penemuan baru. “Isinya terlalu biasa-biasa saja, jadi guru harus berusaha lebih keras lagi menerjemahkan maksud kurikulum ini,” kata dia pada Ahad, 28 Juli 2013.

Aragani megatakan materi buku ajar kedua pelajaran itu juga dinilai oleh para guru kurang tepat sitematika temanya. Mereka menilai ada pengurutan tema materinya terkesan tidak sistematis. “Ini masukan bagus untuk penyempurnaan materi buku ajar ke Kemendikbud,” ujar Kepala Sekolah SMKN 2 Depok Sleman itu.

Dia menambahkan sebagian guru juga memerlukan pelatihan tambahan dan jam terbang lebih banyak untuk menggali metode-metode pembelajaran yang bisa meminimalisir pengaruh kurikulum lama dalam pembelajaran di kelas yang sering didominasi dialog satu arah. Kata dia banyak guru masih kesulitan mengelola kelas yang mendorong siswa mampu belajar dalam sejumlah kelompok kerja. Tugas terberat bagi guru, kata Aragani ialah mendorong siswa mampu merintis pola belajar yang mengarahkan mereka agar mampu menemukan hal-hal baru sebagai hasil pengayaan materi pokok pelajaran. “Perlu waktu untuk adaptasi,” kata dia.

Aragani juga menangkap banyak guru SMK makin penasaran dengan konsep silabus kurikulum baru di jurusan kejuruan yang banyak ragamnya. Hingga sekarang, kata Aragani, guru belum bisa menangkap arah penerjemahan kurikulum baru terhadap konsep pelajaran di jurusan kejuruan karena silabus dan rumusan tujuan pembelajaran belum ada. “Kemendikbud perlu segera menyusun ini, banyak guru sekolah kejuruan terus menunggu terbitnya silabus untuk puluhan jurusan kejuruan,” kata dia.

Kepala Sekolah SMKN 1 Bantul, Retno Yuaniar Dwi Aryani berpendapat beban bagi sekolah kejuruan memang lebih berat ketimbang SMA. Menurut dia banyak pengajar SMK belum bisa memahami model implementasi kurikulum baru di banyak pelajaran, selain Matematika, Sejarah dan Bahasa Indonesia, karena ragam jurusan sekolah kejuruan yang sangat banyak. “Ada 52 jenis jurusan kejuruan di seluruh Indonesia, kami belum paham praktiknya nanti bagaimana,” kata dia.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta, Baskara Aji mengakui banyak masukan kritis dari guru mengenai isi materi buku ajar kurikulum baru. Kata Aji keluhan umum para guru di DIY ialah mengharapkan ada perbaikan dalam susunan urutan pengajaran materi yang ada di buku ajar. “Banyak yang menilai susuna urutan pengajaran materi tiap minggunya yang tercantum di buku ajar perlu diperbaiki,” ujar Baskara.

Hingga kini, kata dia, keluhan mengenai kualitas isi materi buku ajar paling banyak muncul dari para guru SMA dan SMK. Keluhan lain, kata Baskara datang dari para guru SD sebagian sekolah yang mengaku masih kebingungan menerapkan pola pembelajaran tematik. “Mereka banyak yang masih terpaku pada materi pelajaran seperti di kurikulum lama, belum sepenuhnya ke konsep pembelajaran tematik” ujar dia.

Kata Baskara Disdikpora DIY akan mengumpulkan semua perwakilan sekolah yang ditunjuk melaksanakan kurikulum 2013 untuk mengevaluasi tahap awal penerapan pola pembelajaran baru dalam sebulan terakhir. Kata Baskara pertemuan ini penting sebab sebagian sekolah merasa mampu menerapkan kurikulum baru dengan baik, namun yang lain kesulitan. Karena itu, forum seperti ini bisa menjadi ajang saling tukar pengalaman. “Kami juga akan membuat rumusan usulan perbaikan ke Kemendikbud,” kata dia.

Baskara menambahkan hasil pertemuan itu bisa menjadi acuan konsep pendampingan sekolah pelaksana kurikulum 2013 pada bulan selanjutnya. Kata dia Disdikpora sudah sepakat bekerjasama dengan Dewan Pendidikan DIY untuk menyupali tenaga dosen yang bertugas mendampingi para guru mengimplementasikan kurikulum 2013.

ADDI MAWAHIBUN IDHOM/TEMPO.co/28 Juli 2013

Oleh: ahmadnurcholish | Mei 21, 2013

Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton

 

 

Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton
sang kiyaiJakarta, NU Online. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menyambut baik segera ditayangkannya film “Sang Kiai” garapan Rapi Films. Karya layar lebar yang mengisahkan perjalanan hidup dan perjuangan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, dinilai sarat catatan sejarah yang layak tonton.

“Saya secara pribadi dan atas nama NU mengimbau seluruh Nahdliyin untuk menyaksikan film ini. Ini film bagus,” kata Kiai Said sesaat setelah menerima pimpinan Rapi Films Gope T. Samtani di PBNU, Jakarta, Rabu (15/5).

Oleh: ahmadnurcholish | Mei 13, 2013

Pentingnya Jurnalis yang Pluralis

Pentingnya Jurnalis yang Pluralis

Bedah buku dan kuliah umum "jurnalisme keberagaman". Sumber; Dok. ICRP

Bedah buku dan kuliah umum “jurnalisme keberagaman”. Sumber; Dok. ICRP

Indonesia mempunyai masyarakat yang religius, sebagian besar aspek masyarakat selalu dihubungkan dengan agama. Keinginan masyarakat untuk mengetahui berita-berita agama juga tinggi. Pemberitaan agama yang beredar di media massa seharusnya mempunyai konsep dan panduan yang jelas, sehingga pemberitaan seputar isu-isu agama menjadi objektif dan berimbang. Demikian ungkap Endy M Bayuni, editor senior dan mantan pemimpin redaksi Harian The Jakarta Post pada saat peluncuran buku “Jurnalisme Keberagaman” karya Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) Rabu (08/05/2013) di Jakarta.

Media di Indonesia cenderung menghindar dan mencari aman dalam memberitakan isu-isu agama. Hal tersebut dengan pertimbangan akan memunculkan tindakan yang eksplosif dan menyulut perang agama. “Banyak redaksi yang mencari jalan aman saja” ungkap Endy. Hal tersebut karena efek dari kebijakan orde baru. Namun Endy menegaskan bahwa zaman sudah berubah dan hal tersebut sudah tidak berlaku.

Baca Lanjutannya…

Oleh: ahmadnurcholish | Maret 21, 2013

Mengintip Pasal Santet dalam Rancangan UU KUHP

Mengintip Pasal Santet dalam Rancangan UU KUHP

santet-kompas

Kejahatan-kejahatan ilmu hitam dibahas dan diatur dalam Rancangan Undang-undang Kitab Umum Hukum Pidana (KUHP) yang tengah digodok Dewan Perwakilan Rakyat. Setiap orang yang berupaya menawarkan kemampuan magisnya bisa terancam pidana lima tahun penjara. Aturan tersebut diatur dalam Bab V tentang Tindak Pidana terhadap Ketertiban Umum yang secara khusus dicantumkan dalam pasal 293. Adapun, berikut kutipan pasal yang mengatur tentang santet dan ilmu hitam lainnya itu:

Baca Lanjutannya…

Oleh: ahmadnurcholish | Januari 17, 2013

Ulama: Gus Dur Berperan Besar Suburkan Toleransi

Ulama: Gus Dur Berperan Besar Suburkan Toleransi

gus durUlama Kota Bogor KH Firdaus mengatakan, Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur merupakan sosok yang berperan besar dalam menyuburkan budaya toleransi, saling menghargai dan menghormati.

“Gus Dur telah mengajarkan bangsa ini betapa pentingnya toleransi dan kebersamaan dalam mencapai cita-cita bersama sebagai sebuah bangsa, sehingga Gus Dur juga perekat bangsa,” kata KH Firdaus pengasuh Pesantren Nurul Huda Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu, (16/1).

Baca Lanjutannya…

Oleh: ahmadnurcholish | Desember 13, 2012

Cinta Tapi Beda Ala Hanung Bramantyo

Cinta Tapi Beda Ala Hanung Bramnatyo

cinta tapi beda

Cerita tentang konflik yang berdasarkan perbedaan agama bukan hal yang baru bagi sutradara Hanung Bramantyo. Filmnya tentang konflik keyakinan yang berjudul ? cukup menarik perhatian masyarakat. Film lain tentang agama, Sang Pencerah juga tak kalah sukses. Kini, pemilik nama lengkap Setiawan Hanung Bramantyo akan meluncurkan kembali sebuah film tentang perbedaan agama berjudul Cinta Tapi Beda.

Baca Lanjutannya…

Oleh: ahmadnurcholish | November 20, 2012

Menipisnya Toleransi

Menipisnya Toleransi

Diskusi Publik “Membincang Kekerasan atas Nama Agama” di STF Driyarkara. Sumber: Dok. ICRP

“Rasa toleransi dalam diri masyarakat sekarang sudah mulai menipis, apalagi jika sudah dikaitkan dengan persoalan agama” ungkap Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. Guru Besar STF Driyarkara dalam acara Diskusi Publik “Membincang Kekerasan atas Nama Agama” Senin (19/11/2012).

Menurut Romo Magnis, begitu beliau disapa, Darwin telah lama menjelaskan keadaan seperti ini. Dimana manusia akan saling serang dan saling curiga demi mempertahankan hidupnya. Demikianlah hidup di zaman globalisasi seperti saat ini. Batas-batas kelompok hilang dan menyisakan individu-individu yang berjuang sendiri.   ”Saat ini kalau cari aman, ya cari masyarakat yang masih primordial” tegas Romo Magniz

Baca Lanjutannya…

Oleh: ahmadnurcholish | November 1, 2012

Menariknya Nikah Beda Agama

Menariknya Nikah Beda Agama

Suasana diskusi dan bedah buku “Nikah Beda Agama” di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (30/Oktober/2012). Sumber: Dok. ICRP

Nikah beda agama merupakan sebuah realitas baru yang sering muncul disekitar masyarakat kita, namun hingga kini, belum banyak orang yang menaruh perhatian serius terutama mahasiswa terhadap hal ini. Oleh sebab itu, perlu kiranya sebuah kajian dan diskusi akademik untuk membuka wawasan persoalan nikah beda agama ini.

Demikian ungkap ketua DEMA Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sambutan sekaligus pembukaan acara diskusi dan bedah buku “Pernikahan Beda Agama” di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (30/10) lalu. Acara ini diselenggarakan oleh DEMA Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) serta Harmony Mitra Media dan didukung oleh Sinarmas dan Garudafood.

Baca Lanjutannya…

Oleh: ahmadnurcholish | Oktober 2, 2012

‘Bagi Gus Dur dan Kiai NU, Pancasla Sudah Islami’

‘Bagi Gus Dur dan Kiai NU, Pancasla Sudah Islami’

DALAM kacamata kelompok besar Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah harga mati. Dua perangkat landasan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia itu dipandang sebagai aktualisasi nilai-nilai ajaran Islam yang dirumuskan para pendiri bangsa dengan mempertimbangkan akidah, hukum, dan akhlak Islam.

Pada Musyawarah Nasional NU 1983-1984 di Situbondo, Jawa Timur, para dedengkot kelompok Islam terbesar di Indonesia itu melahirkan konsep ‘Kembali ke Khittah 1926′. Konsep itu sejatinya menegaskan bahwa NU ingin lepas dari politik praktis yang dalam kepemimpinan Idham Chalid dianggap terlalu dekat dengan penguasa.

Namun, ketika itu rezim Orde Baru yang dikomandoi Soeharto rajin menginfiltrasikan Pancasila sebagai asas tunggal bagi seluruh kelompok masyarakat, sosial, maupun partai politik. Meski pun saat itu Pancasila sarat dengan tafsir tunggal rezim.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.