Oleh: ahmadnurcholish | Mei 13, 2013

Pentingnya Jurnalis yang Pluralis

Pentingnya Jurnalis yang Pluralis

Bedah buku dan kuliah umum "jurnalisme keberagaman". Sumber; Dok. ICRP

Bedah buku dan kuliah umum “jurnalisme keberagaman”. Sumber; Dok. ICRP

Indonesia mempunyai masyarakat yang religius, sebagian besar aspek masyarakat selalu dihubungkan dengan agama. Keinginan masyarakat untuk mengetahui berita-berita agama juga tinggi. Pemberitaan agama yang beredar di media massa seharusnya mempunyai konsep dan panduan yang jelas, sehingga pemberitaan seputar isu-isu agama menjadi objektif dan berimbang. Demikian ungkap Endy M Bayuni, editor senior dan mantan pemimpin redaksi Harian The Jakarta Post pada saat peluncuran buku “Jurnalisme Keberagaman” karya Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) Rabu (08/05/2013) di Jakarta.

Media di Indonesia cenderung menghindar dan mencari aman dalam memberitakan isu-isu agama. Hal tersebut dengan pertimbangan akan memunculkan tindakan yang eksplosif dan menyulut perang agama. “Banyak redaksi yang mencari jalan aman saja” ungkap Endy. Hal tersebut karena efek dari kebijakan orde baru. Namun Endy menegaskan bahwa zaman sudah berubah dan hal tersebut sudah tidak berlaku.

“Agama adalah bidang peliputan penting, karena masuk dalam dimensi besar, seharusnya jurnalis memberikan perhatian yang lebih besar” tegas pria yang telah 30 tahun mengabdikan dirinya pada dunia jurnalistik ini.

Namun belakangan persaingan antar kelompok agama terjadi di berbagai daerah. Dan persekusi terhadap minoritas agama semakin meningkat seperti Thailand Selatan, Filipina selatan, Birma dan juga Indonesia. Mengenai hal ini Endy merasa banyak jurnalis yang gagal memberitakan isu agama.

Saat terjadi tragedi penyerangan gedung WTC di Amerika. Endy menyebutkan beberapa kantor berita memberitakan tidak seimbang. Bahkan CNN dan Newyork Time ikut andil menyebarkan kebencian terhadap muslim, “padahal waktu itu terorisnya belum ditetapkan dia dari kelompok mana” tegas Endy.

Kegagalan pemberitaan isu agama bisa terjadi karena dua faktor yakni faktor kesengajaan dan faktor ketidaktahuan.

Oleh sebab itu Endy berharap lembaga media di Indonesia ke depan harus memberikan porsi keseriusan yang lebih besar terhadap isu agama. Selain itu, penting untuk mengutus wartawan agama senior dalam setiap liputan serta melakukan pelatihan berkelanjutan terhadap wartawan-wartawan agama. [Mukhlisin/icrp.online.org]


Responses

  1. saya sukardi agama budha dan istri saya beragama islam sampai sekarang ini kami mau mengurus surat untuk akta kelahiran anak tidak bisa dikarenakan kami nikah beda agama,yg jd pertanyaan saya apakah negara kita ini begitu kejam bagi umatnya yg menikah beda agama,itu kan hak masing2 setiap orangnya…mestinya tidak ada kesulitan dalam hal itu…saya berharap permaslahan ini bisa diatasi,sekian dan trimaksaih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: