Oleh: ahmadnurcholish | Agustus 29, 2012

Menjaga Kerukunan

Menjaga Kerukunan

PENYERANGAN terhadap kelompok minoritas akhir-akhir ini menunjukkan betapa problem kerukunan masih menggelayuti bangsa ini. Celakanya, kita seperti tak mau belajar dari peristiwa-peristiwa terdahulu, seperti penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah, sehingga kita tak serius menjaga kerukunan.

Menjaga kerukunan menjadi tanggung jawab kita bersama. Sumber gambar: republika.co.id

Kalaupun belajar, kita seperti tak kunjung pintar menjaga kerukunan. Itu sebabnya peristiwa yang mengoyak kerukunan berulang kali meletus.

Penyerangan terhadap kelompok minoritas Ahmadiyah tak hanya sekali, tetapi berulang-ulang terjadi. Penyerangan terhadap umat kristiani yang tengah beribadah pun berkali-kali terjadi.

Paling mutakhir penyerangan terhadap kelompok minoritas Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, Minggu (26/8). Penyerangan itu bukan yang pertama. Penganut Syiah itu mendapat serangan serupa pada Desember 2011.

 

Semestinya tragedi Sampang menjadi pelajaran bahwa kita harus serius menjaga kerukunan. Kerukunan bisa dijaga bila kita memahami bahwa keberagaman merupakan keniscayaan sosial, hukum alam, sunatullah. Segala makhluk yang ada di kolong langit ini pastilah plural, jamak, banyak, tidak tunggal. Hanya Sang Pencipta yang satu, esa, tunggal.

Manusia berasal dari berbagai ras, etnik, agama, dan kebudayaan. Hasil cipta, rasa, dan karsa manusia pun beragam. Termasuk penafsiran atas agama juga beragam. Itu sebabnya banyak sekali aliran dalam agama-agama.

Bangsa ini harus menyadari hukum alam tidak bisa dilawan. Melawan hukum alam hanya menghasilkan kerusakan, kesengsaraan, dan penderitaan. Penghormatan terhadap keberagaman akan menciptakan harmoni. Itulah sebabnya para pendiri bangsa menciptakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Sayang sekali, bangsa ini seperti melupakan, bahkan melawan, kebinekaan.

Penyerangan atas nama agama terhadap kaum minoritas di Tanah Air merupakan perlawanan terhadap kebinekaan, keberagaman, dan hukum alam. Hasilnya pun hanyalah kerusakan, kesengsaraan, penderitaan, dendam, dan trauma berkepanjangan. Oleh karena itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali menerima keberagaman dalam kehidupan sosial kita. Mari kita rayakan keberagaman sebagai keindahan kehidupan.

Negara tentu punya tanggung jawab besar menjaga kerukunan. Negara harus menjadikan penyerangan terhadap kelompok Syiah di Sampang sebagai pelajaran pamungkas. Negara harus menjadikan peristiwa itu sebagai momentum untuk ekstra serius menjaga kerukunan.

Kita perlu menegaskan hal itu karena, alih-alih menjaga kerukunan, negara justru acap memicu kerusuhan. Negara hadir malah untuk memicu penyerangan atas nama agama.

Label sesat dari aparatur negara menjadi alat legitimasi oleh kelompok intoleran untuk menyerang kelompok-kelompok minoritas. Ketika penyerangan atas nama agama itu terjadi, negara malah absen.

Terang benderang negara berpihak kepada satu kelompok ketika menyelesaikan problem kerukunan. Padahal, negara mesti bersikap bijak dan adil. Negara disebut telah menjaga kerukunan hanya bila ia hadir dan berdiri di atas semua golongan yang hidup di negeri ini.

 

Media Indonesia, Rabu, 29 Agustus 2012

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: