Oleh: ahmadnurcholish | Agustus 1, 2012

Cara Pendeta AS Pahami Makna Ramadan

Cara Pendeta AS Pahami Makna Ramadhan

Ikut puasa selama Ramadan, Magruder mengaku lebih dekat dengan Tuhan.

Wess Magruder, Pendeta AS yang ikut berpuasa

Seorang rohaniwan Kristen Methodist di Dallas, Amerika Serikat, memutuskan ikut berpuasa bersama umat Muslim dalam Ramadan tahun ini. Upayanya dilakukan untuk memahami makna Ramadan yang diagungkan Islam, serta untuk menjalin solidaritas antara umat beragama di Amerika.

Adalah pendeta Wess Magruder yang melakukan hal ini. Dia melakukan seluruh laku umat Islam dalam berpuasa, termasuk makan sahur dan berbuka bersama. Sampai saat ini, dia telah sukses melakukan puasa sejak hari pertama Ramadan.

Seluruh pengalamannya dituangkannya di blog pribadinya, www.newmethofesto.com. Dalam blognya, dia mengatakan bahwa berpuasa di bulan Ramadan membuatnya memahami karunia Tuhan. Terpenting lagi, salah satu alasan untuknya ikut berpuasa, yaitu cinta kasih sesama.

Dalam blognya juga, seperti diberitakan Examine.com, Magruder mengakui belakangan ini dia kurang bersemangat dalam menjalani ajaran agama. Namun setelah menjalani puasa di bulan Ramadan, dia kembali merasakan getaran-getaran spiritualitas di jiwanya.

“Getaran-getaran ini membuat saya menyadari adanya Tuhan, kehadiran Tuhan, takdir Tuhan yang menjelma menjadi nyata di dunia,” katanya dalam tulisan berjudul “Hari ke-6 Ramadan: Getaran Permanen”

Tidak hanya absen makan dan minum, puasa juga absen dari melihat, mendengar dan berkata yang tidak baik. “Saya mencoba untuk menjaga mata, dan sadar bahwa mata saya ternyata jelalatan. tidak hanya itu, budaya kita juga dipenuhi oleh gambar-gambar orang-orang berpakaian minim. Mereka di televisi, billboards, majalah, di mal, dimana-mana!” tulis Magruder.

Menjalani puasa Ramadan juga membuatnya mengenang kembali ibadah Kristen yang mulai ditinggalkan dan menjadi asing di Amerika. Menurutnya, umat Kristen terdahulu telah melakukan puasa dalam beberapa acara peribadatan.

“Umat Kristen terdahulu menjalani puasa, terutama sebelum Komuni Suci dan pembaptisan. Selama ini, gereja berpuasa selama 40 hari sebelum Paskah. Disiplin puasa menjadi bias saat reformasi Protestan, tapi John Wesley mengembalikan tradisi ini melalui kebangkitan Methodist,” tulis Magruder dalam tulisannya berjudul “Hari ke-4 Ramadan: Puasa Sangat Tidak Amerika.”

Banyak Diapresiasi

Awalnya, tulisan Magruder di blog pribadinya menjadi konsumsi pribadi dan jemaat saja. Namun, ternyata banyak pembaca dari kalangan Kristen dan Islam di seluruh Amerika dan seluruh dunia yang mengapresiasi tulisannya.

Terbukti dari banyaknya komentar yang mendukung, bahkan memberinya tips mengatasi lapar dan haus saat puasa. Berbagai undangan berbuka bersama juga diterimanya. Selain itu, tulisannya ini juga semakin mendekatkannya dengan sahabat-sahabatnya umat Muslim di Dallas, salah satunya Sheikh Yaseen, imam di Islamic Center Dallas.

Beberapa bahkan menyampaikan pandangannya soal toleransi beragama di seluruh dunia. Jadilah kolom komentar blog Magruder sebagai ajak dialog lintas agama yang konstruktif.

“Saya melakukan ini bukan untuk saya sendiri, tapi untuk kawan-kawan saya yang Muslim. Sejujurnya, saya terganggu dengan pandangan beberapa orang Amerika dan perlakuan mereka terhadap Muslim, terutama pasca tragedi 9/11. Saya ingin membantu mengubah persepsi dan menghilangkan penilaian buruk,” tulis Magruder. (umi)

Sumber: viva.co.id


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: