Oleh: ahmadnurcholish | April 9, 2012

Bunga Kering Perpisahan

Bunga Kering Perpisahan

 

/1/

Di nisan suaminya

Ia taburkan melati dan kenanga

Sambil melafalkan doa

Perempuan itu Dewi namanya.

 

Terbius rasa pedih

Ia mohon ampun dengan suara lirih

Segala yang di dadanya terasa berat,

Segala yang di sekitarnya semakin pekat.

Sepuluh tahun sudah ia hidup

Bersama Joko, suami pilihan Ayah

Perkawinannya selalu redup

Karena Albert pilihan hatinya.

 

Maafkan aku, suamiku, tangis Dewi.

Sepuluh tahun lamanya sudah

Kita menikah –

Tapi tak mampu jua aku mencintaimu.

Sudah kuberikan segalanya padamu

Tapi rupanya bukan engkau milik hatiku.

Bukan engkau inti angan-anganku.

Joko, apa dayaku?

 

Ditaburkannya bunga sekali lagi

Sambil menelusuri isi hati,

Izinkan kuserahkan sisa hidup ini

Kepada lelaki yag kucintai.

 

Kini kau di alam baka –

Setelah sepuluh tahun yag tanpa warna,

Baru sepenuhnya mataku terbuka:

Cinta memang tidak bisa dipaksa.

 

/2/

Di kamarnya yang sunyi

Dewi membuka almari;

Diambilnya sebuah kotak kecil berwarna nila

Yang sejak menikah tak pernah disentuhnya.

 

Dengan gemetar kotak dibukanya:

Mawar kering itu masih di sana;

Terbayang olehnya Albert, kekasih hatinya,

Dan tersengat jiwanya oleh kisah lama.

 

Seolah didengarnya kata pemuda itu

Di saat perpisahan sepuluh tahun lalu,

Simpan bunga kering ini, Dewiku,

Sampai kau terbebas dari belenggu.

 

Kalau sampai waktunya nanti,

Kalau kita memang jodoh sejati,

Kirimlah bunga ini padaku kembali

Dan aku akan datang padamu. Aku janji!

 

/3/

Tahun delapan puluhan –

Mereka kuliah, satu angkatan;

Bersahabat? Tak usah ditanya.

Cinta? Nati dulu, agama berbeda.

 

Dewi sejak awal merasa

Albert lelaki istimewa,

Tapi Dewi seorang Muslimah

Sedangkan Albert anak pendeta.

 

Pemuda itu selalu berkata,

Aku suka ke gereja, tapi tak pasrah buta

Pada satu agama;

Aku hanya ingin menyadap intinya.

 

Sering disampaikannya kepada gadis itu

Segala yang dengan baik diokuasainya

Dari pengalaman, dari buku –

Dan Dewi tak pernah bosan mendengarnya.

 

Umat manusia, ujar Albert,

Sudah lebih dari 150 ribu tahun umurnya;

Berturut-turut agama pun diturunkannya,

Diwartakan, dipoertengkarkan.

 

Manusia lebih tua dari agama

Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya,

Cinta lebih tua dari agama,

Janganlah agama mengalahkan cinta.

 

Begitulah Albert, itulah logikanya.

Namun, di balik pikirannya yang liar kedengarannya

Albert adalah pemuda yag suka menolong sesama

Lembut hatinya.

 

/4/

Ia kenal pemuda itu sejak kecil

Dari desa terpencil

Sama-sama hijrah ke Jakarta

Untuk merebut cita-citanya.

 

Dulu, semasa bocah

Pernah mereka menyeberang sungai ke sawah

Melewati jembatan bamboo – tiba-tiba patah!

Dewi tercebur, ya Allah!

 

Sigar Albert melompat menolongnya

Sementara kawan-kawan lain bengong, diam saja;

Ditariknya Dewi, diseretnya melawan arus deras

Diangkatnya ke tepi sungai – dimbimbingnya rebah di teras.

 

Suatu malam Dewi bermimpi:

Ia dibonceng Albert bersepeda

Lepas gembira melewati sawah dan bukit –

Inikah pertada mulai bersemi cintanya?

 

Semakin lama semakin deras perasaan sayangnya,

Tapi sejak mula disadarinya juga:

Mereka berlainan agama.

Siapa gerangan yang akan mensahkan cinta remaja?

 

Terbayang olehnya

Pagar pembatas itu: memanjag di selatan

Menghalang di utara,

Di barat, di timur, di kiri dan kanan

 

Semakin lama semakin dalam Dewi rebah

Dalam pelukan Albert yang gagah

Tapi ia tahu pasti

Perpisahan tak akan bisa dihindari.

 

/5/

Waktu yang diduga datang jua!

Dewi duduk di hadapan ayahnya

Yang dengan lugas dan tegas bicara

Tentang hakikat cinta dan agama:

 

Aku sangat malu

Dan aku tak akan pernah mau

Menjadi orang tua

Yang kena murka Allah.

 

Aku tak akan tahan

Menjadi insan dilaknat

Hanya lantaran membiarkan

Anaknya menempuh Jalan sesat!

 

Dan ujung-ujungnya

Sampai juga pesan utama:

Joko pemuda santri ia perkenalkan

Sangat cocok menjadi suami Dewi.

 

Tekad ayah bulat

Niatnya pekat

Albert harus dilupakan

Karena Joko suami Dewi di masadepan

.

Tak sepatah kata terucap dari Dewi,

Bibirnya terkunci.

Gadis itu tertunduk, jiwanya berontak.

Tapi pesan ayahnya? Tak bisa ditolak!

 

Teringat ia akan masa kanak.

Tinggal di rumah sederhana;

Ayah kadang pulang larut.

Waktu itulah ibunya suka bertitah,

Lihatlah baik-baik, Nak,

Kita bisa menikmati sore dan malam

Tapi ayahmu mencari nafkah – berjibaku

Kita ini bagaikan benalu!

Jangan sekali-kali kaudurhakai

Pohon perkasa, sandaran hidup kita,

Jangan pernah kauganggu nurani ayahmu.

 

Hidup Ayah lurus rus rus rus,

Prinsip agamanya kuat wat wat wat –

Kaku?

Beku?

 

Kataya pada suatu hari,

Manusia diciptakan berpasangan;

Walau pemuda itu baik padamu

Tetapi ia lain agama.

 

Itu artinya

Ia bukan jodoh

Yang dikirim Allah

Untukmu!

 

Sejak kecil ia tak boleh membantah Ayah

Hidupnya selalu siap diperintahah berat

Walau kali ini permintaan Ayah berat

Ia harus patuh bulat.

 

Aku akan menikah dengan Joko

Aku harus melupakan Albert

Bisa ataupun tidak

Aku harus bisa, gumam Dewi.

 

/6/

Dan Albert? Ia berbeda;

Rumahnya di atas angin

Baginya agama sama saja,

Tetapi menghadapi Dewi harus panjang nalarnya.

 

Benar, katanya kepada dirinya sendiri,

Banyak orang tidak peduli

Dan mereka ikuti saja kata hati,

Tapi Dewi bukan selebriti!

 

Ia temui para ahli Kitab

Dan diketahuinya, masing-masing punya sikap,

Itu haram mutlak! Kata salah seorang

Sambil menunjukkan hukum yang jelas dan tegas.

 

Yang lain bersikap sebaliknya

Berdasarkan alasan yang juga mengena.

Pemuda itu terbuka mata

Tak ada keseragaman ternyata.

 

Ada pandangan yang menutup pintu kawin beda agama,

Tapi ada juga pandangan lain yang menerima.

Wahai, apa makna semua?

Apa peduliku?

Mengapa aku harus tunduk pada aturan itu?

Bukanlah cinta lebih tua dari agama dan Negara?

 

/7/

Namun Dewi tetaplah seorang santri

Patuh pada orang tua adalah tradisi

Cintanya pada Albert yang mendalam

Sekuat tenaga ia benam.

 

Joko itu ternyata cerdas dan santun,

Siapa tahu hidup kami nanti bisa rukun.

Pikiranya menerima lelaki itu

Ingin dicobanya hidup baru.

 

Tetapi terhadap Joko mengapa hatinya seperti batu?

Dew diam terpaku.

Mengapa pikiran dan hatinya tidak bersatu?

Dewi mulai ragu.

 

Albert selalu bergelora

Mampu menggetarkannya sampai ke surge,

Tapi Joko alim dan dingin

Hatinya beku seperti patung lilin.

 

Pernikahan pun berlangsung meriah

Demi Ibu dan Ayah, aku pasrah,

Akan kulupakan Albert, dan setiap kepada suami,

Demikian janji Dewi kepada dirinya sendiri.

 

/8/

Hari silih berganti, tahun datang beruntun,

Keduanya menjalani hidup yang tertuntun,

Joko pegawai negeri biasa

Dewi karyawan perusahaan poerusahaan swasta;

Hampir tak pernah mereka bertengkar,

Kata orang keluarga Dewi tenang.

Tapi kenapa hidupku ini hambar?

Kenapa Eros cinta pada Joko tidak juga bertandang?

 

Di benak Dewi bayangan Albert kepar melintas

Dan rindunya memanas:

Terbayang olehnya boncengan sepeda di pematang sawah,

Terbayang sore yang lepas dan bunga merekah.

 

Kepada malam yang sepi ia bertanya,

Apakah gejolak cinta hanya datang satu kali saja

Dan itu hanya untuk cinta remaja?

Mengapa setelah menua

Getaran cinta tak lagi ada?

Mengapa rasa itu hanya mekar kepada Albert, pacar masa remaja?

Mengapa tidak kepada Joko, suaminya?

Malam yang sepi tak pernah menjawab pertanyaannya.

 

Tapi Aku harus menjadi Muslimah teladan

Patuh pada suami,

Taat pada orang tua,

Dan bakti kepada agama.

Itu harga mati, tandasnya.

 

/9/

Bertahun-tahun sudah mereka berkeluarga

Tak juga lahir ada anak mereka;

Wahai, Joko ternyata memiliki kelainan

Ia tak bisa berketurunan.

 

Beberapa kali ia jatuh sakit.

Awalnya dianggap biasa saja

Semua manusia lain mengalaminya:

Sakit dan sehat seperti musim, datang dan pergi.

 

Namun, di tahun kesembilan pernikahan

Sakit Joko semakin berkepanjangan,

Semakin parah –

Tubuhnya tampak bertambah lemah.

 

Sebagai istri yang berbakti

Dewi memutuskan berhenti bekerja

Agar bisa merawat suami

Dan tinggal di rumah saja.

 

Tak putus-putus juga Dewi berdoa

Agar Joko kembali seperti sedia kala;

Meski ia sadar sepenuhnya

Bahwa itu bakti semata, bukan rasa cinta.

 

Dan hari itupun tiba juga akhirnya!

Vonis dokter: Joko tak bisa bertahan lebih lama.

Dewi pun mendadak merasa bersalah

Mengapa di lubuk hatinya tetap ada masalah.

 

Dan ketika suaminya harus pergi

Untuk menjumpai Khalik,

Suatu malam Dewi bertahajud.

Jiwanya menangis, pikiranya ngelangut.

 

Ya Allah, ampunilah aku

Segala cara telah kutempuh

Segala tenaga telah tercurah

Agar bisa menjadi

Istri yang baik, istri yang setia,

Tetapi mengapa tak kunjung terbit

Nafsu cintaku kepadanya?

Mengapa justru Albert yang selalu ada

Di pelupuk mata?

Ya, Allah, aku telah gagal jatuh cinta

Kepada suamiku sendiri!

 

/10/

Setahun sudah Dewi menjanda,

Ia mulai banyak membaca.

Hidup sebatang kara memaksanya menjadi baja

Ia sudah kembali bekerja.

 

Ia mulai lepas dari tradisi

Dihayatinya hidup yang mandiri

Filsafat dan sastra membentuk dirinya,

Ia bukan Dewi yang dulu lagi.

 

Suatu ketika

Ia punya niat ke kampus

Untuk melepas rindu

Masa-masa mahasiswinya dulu.

 

Ia duduk-duduk di taman yang dulu juga.

Suasana sudah berubah

Tetapi ada yang masih tinggal –

Masih bisa dihirupnya.

 

Bangku yang itu juga

Sudah berubah warna.

Di situ ia dulu masih sempat ketemu Albert

Sebelum hari pernikahan, sepuluh tahun lalu.

 

Saat itu senja mulai gelap

Mereka sadar segera harus berpisah;

Di pojok taman itu

Sambil berjalan Albert berkata,

Jika kautinggalkan aku

Karena tak lagi mencintaiku,

Aku pasrah.

Jika kau kau menikah dengan lelaki lain

Karena kamu mencintainya,

Aku terima.

Tapi aku tahu, Dewi,

Bukan itu alasanmu meninggalkanku.

Kauhancurkan cinta kita

Demi baktimu kepada ayahmu.

Demi baktimu pada tafsir agama!

 

Ia ingat magrib di taman itu.

Ia menangis tanpa suara.

Tak bisa lagi yang bisa diusahakan:

Albert harus merelakan perpisahan.

 

Sebelum berpisah Albert menyerahkan

Sekuntum mawar.

Di pikirannya kata-kata itu masih melekat

Yang kadang membuat hari-harinya pekat.

 

Dewi, simpanlah mawar segar ini.

Pada waktunya nanti

Ia akan kering dan layu;

Apa yang akan terjadi tak akan bisa diduga

Kecuali nasib bunga ini.

Kita tak tahu masa depan.

Jika ternyata memamg kau jodohku

Dan kelak telah siap untuk bersatu dengaku,

Kirimlah bunga ini sebagai isyarat;

Aku akan segera menghampirimu –

Ini janjiku.

Aku percaya dalam hidup

Manusia jatuh cinta hanya sekali saja

Cintaku sudah tunai untukmu.

 

Dewi tidak bisa lain

Kecuali diam saja,

Dan sambil menundukkan kepala

Ia bertanya apakah Albert akan menikah juga.

 

Aku akan menikah dengan petualanganku –

Gunung-gunung tinggi akan kutaklukkan

Akan kujelajahi bumi yang diciptakan-Nya

Dan akan kusampaikan pertanyaannku

Di puncak setiap gunung yang dudaki,

Tuhan, mengapa tak Kau-restui cintaku

Kepada sesama ciptaan-Mu

Hanya karena, ya Allah

Hanya karena agama kami berbeda?

Padahal Kau jugalah yang menurunkannya.

 

Tersekat tangis Dewi, dibawanya mawar itu,

Disimpannya dalam sebuah kotak

Yang akan menjaga rahasia abadi

Cintanya kepoada seorang lelaki.

Cinta sejatinya.

Cinta hatinya.

 

Ya, Tuhan, perkenankan aku menikah;

Bimbinglah aku agar setia pada suami

Dan jangan biarkan aku

Membuka kotak ini lagi.

 

/11/

Namun, apa yang tak berubah

Di bawah langit?

Pada suatu hari dibukanya juga

Kotak itu: benar, mawar itu kering dan layu.

Tapi masih diciumnya wangi baunya.

Seperti gemetar mawar layu itu di tangannya,

Ke mana gerangan hidup ini mengarah?

Muncul kembali bayangan yang sudah jadi arwah.

 

Di seberang jendela: langit tak ada batasnya

Awan masih tetap berkelana.

Kali ini biar kuturuti saja suara hati

Tiba sudah saatnya, berbakti kepada diri sendiri.

 

Ya, Allah, telah kuikuti lurus ajaran-Mu

Seturut tafsir orang tuaku;

Ayah dan Ibu, telah kuikuti pula keinginanmu

Menikah dengan lelaki yang bukan pilihanku;

Suamiku, telah kucoba melayanimu

Setia padamu sampai akhir hayatmu.

Kini tiba giliranku

Menjadi tuan bagi diri sendiri –

Izinkan aku mengikuti suara jiwaku,

Hanya tunduk pada titah batinku.

 

Dipandagnya lagi mawar kering itu.

Sudah tetap niatnya:

Akan disampaikannya kembali ke pemiliknya

Secepatnya. Ia pasti masih menunggu, pikirnya lagi.

 

Langit tetap yang itu juga

Yang dulu mendengar janji kekasihnya:

Kapan pun bunga itu dikirim kembali

Lelaki itu akan siap menerimanya lagi.

 

Menakjubkan: cinta ternyata terus bertahan

Melampaui masa dan berbagai perbedaan;

Pernikahan boleh dibatalkan

Tetapi meski di dalam sekam, cinta tak padam.

 

Kepada Ayah dan Ibu Dewi sampaikan niatnya

Untuk kembali ke cinta lamanya.

Tapi apa kata mereka berdua?

Lebih baik menjanda daripada kawin beda agama!

 

/12/

Namun, sekarang ini Dewi berbeda,

Ia tetap sayang orang tua

Ia tetap saleh soal agama.

Tapi sikap hidup? Kini ia tegak pada pendiriannya.

 

Ayah menghalanginya sekuat tenaga,

Menikah beda agama hanya mengirimmu ke neraka!

Jawab Dewi, Ayah ini zaman Facebook dan Twitter

Bukan era Siti Nurbaya!

Dunia sudah berubah

Bukan manusia untuk agama

Tapi agama untuk manusia

Bagi Ayah, beda agama itu masalah.

Bagiku tidak!

Ayah memang merawat fisikku sejak kecil.

Tapi jalan hidupku bukan milik Ayah!

 

Ayah terkaget alag-kepalang.

Dewi yang patuh sudah tiada,

Di hadapannya berdiri Dewi yang berbeda

Betapa dunia memang sudah berubah.

 

Hati Dewi sudah bulat

Cintanya pada Albert memanggilnya kembali;

Terbayag era bocah

Ia menemani Albert bermain layang-layang di sawah.

 

Maka diposkannya bunga itu ke alamat kekasihnya.

Hari berganti hari, pekan berganti pekan,

Dewi tertegun: mengapa tak kunjung ada jawaban?

Ya, ya, apakah jaji sudah dilupakan?

 

Tibalah juga sore tak terduga itu:

Seorang ibu tua mengetuk pintu,

Dan ketika dibuka,

Astaga! Ibunya Albert rupanya.

 

Dipeluknya Dewi, disampaikannya berita itu.

Sejak kamu menikah,

Albert tak betah lagi di rumah.

Didakinya gunung demi gunung

Entah di negeri mana –

Seperti ada yang ingin dicarinya

Seperti ada yang ingin diprotesnya.

Dan setahun lalu aku mendapat berita

Albert, anakku laki-laki itu

Tak akan pulang kembali –

Ia meninggal di sebuah gunung

Dan dimakamkan di sana.

 

Suara perempuan itu terbata-bata

Tapi kuasa menahan air matanya.

Dan Dewi? Ia menjerit sekuat-kuatnya

Sambil memeluk ibu tua itu.

 

Ada pesanya, sambung ibu Albert,

Sebelum pendakianya yang terakhir

Albert menitip surat

Yang hanya boleh disampaikan

Kalau kuntum mawar sudah kaukirimkan.

 

Tak sabar dengan tangan gemetar

Dibukanya surat itu,

Masih dikenalinya tulisan tangan Albert –

Tetap seperti dulu.

 

Dewi, tulis Albert,

Mungkin sudah kaukirim kembali

Bunga kering itu sekarang.

Tapi yang akan kauterima

Hanya surat ini.

Aku tak berniat mengingkari janji!

Aku sekarang mungkin di alam lain

Dan janjiku tetap seperti dulu:

Cintamu hanya untukmu

Yang tak sampai hanya karena kita beda agama.

 

Dipeluknya surat itu

Diciumnya hingga basah oleh air mata

Hatinya menjerit

Melolong sampai jauh, jauh sekali…

***

Note’s: Puisi ini karya Denny JA, dari buku “Atas Nama Cinta” (April 2012)

Saya unggah di blog ini atas seijin beliau.


Responses

  1. ceritanya bagus banget….cant wait to watch d movie!

  2. tidak happy ending…. takut aku begituuu…….

  3. aku juga menjalani cinta beda agama….. tapi aku tak mau jadi seperti itu……
    aku mau kami bersatu walau apapun resikonya…….

  4. sedih banget…tapi aq gk mau cintaku berakhirr spt itu..
    aq akan perjuangkan cintaku wlpun kami berbeda agama

  5. tidak ada yg abadi di dunia ini selain CINTA..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: