Oleh: ahmadnurcholish | Februari 22, 2012

“Saya Seperti Ditempeleng Kotoran Sapi”

“Saya Seperti Ditempeleng Kotoran Sapi”

Salah seorang yang paling geram atas perilaku menyimpang Hasan bin Ja’far Assegaf adalah Hasyim Assegaf.

Pria 48 tahun ini sempat dekat dengan Hasan dan tiga adiknya, Musthofa, Abdullah, dan Qasim. Saat jamaahnya masih sedikit, Hasan merintis Majelis Taklim Nurul Musthofa di rumah Hasyim, di Jalan Jambu, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Belakangan, keponakan dan sepupu Hasyim diketahui turut menjadi korban pelecehan seksual Hasan. Hasyim sakit hati dan kecewa mendalam. Tindakan Hasan dipandang mencoreng citra habib yang selama ini jadi panutan. Senin malam lalu, wartawan Gatra, Haris Firdaus dan Taufiqurrahman, berbincang dengan Hasyim di rumahnya yang terpajang foto sejumlah habib. Berikut petikannya:

Seberapa dekat Anda dengan Hasan Assegaf?

Dia merintis majelis taklim di rumah saya sejak tahun  2000. Adik-adiknya sudah seperti anak saya. Mereka sering tidur di rumah saya. Saat majelis taklimnya membesar, banyak jamaahnya tidur di rumah saya. Kunci rumah saya gantung dekat pintu 24 jam, karena saya anggap majelis taklimnya menyebar kebaikan.

Bagaimana Anda menilai majelis taklimnya belakangan ini?

Ternyata banyak mudaratnya. Anak muda laki-laki dan perempuan bercampur. Banyak jamaah perempuan hamil di luar nikah. Ya, bagaimana, anak perempuan boncengan motor dengan anak laki-laki pada tengah malam. Mereka pamit ke orangtua pergi ke pengajian. Di tengah jalan, mereka ke mana kita tidak tahu.

Bagaimana kualitas pengajian di Nurul Musthofa?

Jamaah hanya bisa hafal kasidah dan maulid. Rata-rata kalau kita tanya hal sepele, seperti tata cara wudu, mereka tidak bisa jawab. Bertahun-tahun majelis ini berdiri, nyatanya cuma menghasilkan orang yang bisa menghafal. Didikan dasar agamanya nol besar. Bahkan saya dengar, kru Nurul Musthofa salatnya nggak bener. Saat mendirikan panggung, dari pagi sampai malam, mereka nggak salat.

Kapan Anda pertama tahu skandal seksual ini?

Saya baru dengar November 2011. Ini benar-benar di luar jangkauan akal. Sepupu dan keponakan saya jadi korban. Saya merasa sakit dan diinjak-injak. Rasanya, muka saya seperti ditempeleng  kotoran sapi. Dia kecil di sini, besar dari sini, kok keluar hasilnya begini? Saya kecewa dan betul-betul malu. Saya sampai mempertanyakan apakah Hasan itu benar-benar habib? Kelakuannya tidak seperti habib.

Benarkah korban ini anak-anak dari orang yang dulu dekat dengan Hasan?

Memang. Hasan ini tidak tahu balas budi. Ada Haji Atung yang tinggal di Kampung Kandang, Jagakarsa. Rumahnya terbuka 24 jam untuk para habib. Dia menampung orang plus makan, minum, rokok, dan tempat tidur. Di rumah Haji Atung, Hasan pertama kali menggelar majelis ketika baru datang dari Bogor. Hasan dulu sering tidur di sana, makan di sana, pakai mobil Haji Atung juga. Tapi anak Haji Atung sendiri jadi korban pelecehan seksual.

Kenapa para korban bisa menuruti Hasan?

Hasan mendoktrin dirinya wali. Apa pun yang dia lakukan merupakan hal kewalian. Awalnya, yang didoktrin orang sekitarnya. Meskipun akal mereka tidak menerima, akhirnya terpaksa terima karena mendapat penghasilan dari sana. Mereka menyebar doktrin ini dari mulut ke mulut dan mengarang kisah kewalian Hasan. Ada kemungkinan, Hasan memakai ilmu kesaktian tertentu. Korbannya bukan satu-dua orang, melainkan puluhan.

[Laporan Utama, Gatra Nomor 15/18 Beredar Kamis, 16 Februari 2012]


Responses

  1. Agama dan gelar dijadikan tameng. Dasar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: