Oleh: ahmadnurcholish | Juni 16, 2010

“Emoh Agama dan Tak Diperlukannya Nabi”

Diskusi JIL Bulan Juni

“Emoh Agama dan Tak Diperlukannya Nabi”

(Kajian terhadap Surat-Surat Filosofis Abu Bakar al-Razi)

Narasumber: Prof. Dr. Zainun Kamal (UIN Jakarta), Novriantoni Kahar, Ulil Abshar-Abdalla. Moderator: Malja Abrar.

Selasa, 29 Juni 2010,

Jam 19.00-21.30, di Teater Utan Kayu Jakarta
Manusia memiliki akal. Dengan akalnya, ia bisa menentukan yang baik dan yang buruk. Dengan itu, manusia tak memerlukan nabi-nabi dan wahyu. Itulah yang dikatakan Abu Bakar al-Razi (863-925 M.) dalam bukunya, Rasa’il Falsafiyah. Ia berpendirian bahwa kehadiran nabi-nabi telah membawa kehancuran bagi manusia akibat pertentangan ajaran-ajaran (ta’arudl bayna al-syara’ih) di antara mereka. Ajaran-ajaran itu telah menyulut kebencian antar-manusia yang berujung pada perang agama. Walau menentang semua agama, ia bukanlah seorang ateis, melainkan seorang monoteis yang percaya hanya kepada Tuhan. Kepercayaannya yang mutlak hanya kepada Tuhan menyebabkan ia tak mempercayai al-Qur’an. Baginya, al-Qur’an baik gaya bahasa maupun isinya bukan merupakan mukjizat.

Pandangan al-Razi itu pernah mengguncang dunia Islam. Pertanyan yang muncul di benak kita hari ini, benarkah Abu Bakar al-Razi saat itu telah memiliki pemikiran yang demikian berani dan kontroversial itu? Adakah kemungkinan bahwa pemikiran-pemikiran itu sengaja dibuat musuh-musuhnya untuk menjatuhkan al-Razi? Bagaimana kita meletakkan pemikiran tersebut dalam fakta adanya kekerasan-perang dengan motif agama. Betapa, hanya dengan merujuk kepada satu ayat suci, seseorang bisa menghancurkan orang lain.


Responses

  1. Dikiranya produk akal pikiran bisa menggantikan ajaran Tuhan via raul-Nya, padahal kita tahu bahwa akal pikiran itu sendiri adalah makhluk, sama seperti pemilik akal itu sendiri adalah makhluk, yang banyak memiliki keterbatasan. Sudah demikian jauhnya ketakaburan manusia.

  2. Trims buat kiriman artikelnya.

    Pemikiran al-Razi memang sangat kontroversial bagi zamannya waktu itu (sepertinya juga bagi manusia zaman sekarang). Secara pribadi, saya setuju dengan al-Razi.

    Manusia dikaruniai akal dan kemampuan untuk memahami bahwa Tuhan (atau apapun sebutan-Nya) itu ada. Para nabi (they are only human) sering mendapat tempat istimewa karena dianggap memiliki koneksi langsung dengan Tuhan. Apakah itu berarti bahwa untuk berhubungan dengan Tuhan harus melalui orang-orang khusus tadi?

    Nabi ibarat orang tua yang memberi tuntunan bagi anak-anak. Salah satu ciri anak ialah mempertanyakan mana yang benar atau salah. Orang dewasa seharusnya sudah mampu menimbang dan membedakan benar dari salah. Pemikiran Abu Bakar al-Razi bisa dikategorikan untuk orang dewasa. Al-Razi, dalam pandangan saya, tidak berusaha menggantikan Tuhan. Dia sepertinya justru mendorong umat untuk secara pribadi langsung mengenal Tuhan tanpa melalui “makelar”.

    Memahami pemikiran al-Razi ada baiknya diiringi dengan teori perkembangan kepercayaan yang digagas William Taylor. Menurut Taylor, kepercayaan merupakan sesuatu yang berevolusi. Tahap akhirnya adalah pemikiran universal, seperti yang dimiliki oleh tokoh-tokoh terkenal, antara lain: Mother Theresa, Mahatma Gandhi. Bisa jadi, Abu Bakar al-Razi termasuk orang-orang yang sudah mencapai tahap itu. Tambahan lagi, tidak semua orang mau menjalani petualangan spiritual untuk mencapai tahap itu.

    Selamat memahami pemikiran al-Razi.

  3. Menurutku pandangan seperti itu salah… Lihat kepercayaan2 yg berkembang dimasyarakat primitif.. Mereka tentu menggunakan akal mereka untuk mengenal penciptanya.. Dan hasilnya luar biasa beraneka ragam. Apakah itu yg di inginkan Tuhan? Saya rasa tidak.. Tuhan mengutus nabi dan rasulNya untuk menbantu manusia mengenal Tuhannya dengan benar. Mengenai anggapan perbedaan ajaran yg dibawa masing2 nabi dan rasul saya kira tidak benar.. Perbedaan trb muncul krena pemahaman umat yg berbeda2 dan seiring perjalanan waktu, perbedaan pendapat itu semakin mendapatkan pengikut2 yg fanatik. Disamping itu banyak juga kelompok2 tertentu yg dgn motif tertentu sengaja membelokkan tafsiran dari ajaran agama yg dibawa nabi dan rasul. Itulah yg menurut raya menjadi permasalahannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: