Oleh: ahmadnurcholish | Februari 25, 2010

Kebebasan Beragama Pasca Mangkatnya Gus Dur

Salah satu buku tentang Gus DurKebebasan Beragama Pasca Mangkatnya Gus Dur


Berpulangnya KH. Abdurrahman Wahid pada 30 Desember 2009 menyisakan duka bagi banyak kalangan. Tidak hanya bagi keluarga dan warga Nahdliyin, tetapi juga bagi segenap warga bangsa yang selama ini mendapat manfaat atas pembelaan dan perjuangan tokoh yang karib di sapa Gus Dur ini. Teman sejawat dan berbagai kelompok masyarakat, LSM/NGO, organisasi keagamaan, dsb., yang selama ini turut serta berjuang bersama mantan presiden RI ini juga merasa kehilangan atas tokoh yang tak pernah berhenti untuk mewujudlkan demokrasi, toleransi dan kebebasan beragama di tanah air.

Salah satu  upaya nyata terkait dengan upaya kebebasan beragama di Indonesia adalah dengan dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95 oleh Gus Dur ketika menjabat presiden keempat negeri ini. Dengan itu, warga Tionghoa tak lagi tertekan dan sembunyi-sembunyi untuk menjalankan ajaran agama, khususnya Khonghucu.

Kini, geliat kebangkitan masyarakat keturunan China pun mulai semarak  lagi sejak kepemimpinan Gus Dur hingga saat ini. Maraknya perayaan kalender China, mulai dari perayaan Imlek secara nasional, pergelaran barongsay di halayak umum, hingga  Peringatan 600 Tahun Pelayaran Cheng Ho ke Semarang, Mengenang Sang Raja Laut tahun 2005, penayangan film Cheng Ho, dan menjamurnya lembaga kursus bahasa Mandarin merupakan dampak dari kebijakan mantan Ketua Umum PBNU itu.

Atas keseriusannya dalam memperjuangkan segala bentuk ketidakadilan, kekerasan atas nama agama sekaligus memperjuangkan demokrasi membuat Gus Dur diakui melampui batas Agama, Suku, Etnis, Antargolongan. Berbagai penghargaan terkait dengan upayanya mewujudkan kebebasan beragama pun disabetnya.

Pada 10 Maret 2004 ia ditasbihkan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan. Ia juga menerima penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena  dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru.

Sebagai pejuang HAM, Gus Dur juga mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Ia  mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM.

Selain itu tak kurang dari 10 perguruan tinggi luar negeri memberikannya gelar doktor kehormatan atas ilmu pengetahuan dan kiprahnya di berbagai bidang. Bahkan, pada Januari 2010 ini sedianya cucu pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari ini akan berangkat ke Vemont, Amerika Serikat untuk menerima sebuah penghargaan kemanusiaan. Namun ia keburu menghadap Sang Pencipta.

Karena itulah wajar jika kita merasa kehilangan tokoh terbaik sekaligus guru bangsa yang dimiliki bangsa ini. Lantas, siapakah kelak yang akan meneruskan perjuangannya, khususnya dalam hal kebebasan beragama di Indonesia? Mungkin kita tak pernah lagi menemukan sosok seperti Gus Dur yang berani secara terbuka dan konsisten dalam mengkritik kebijakan Negara yang tidak pro terhadap kebebasan beragama, sekaligus ia tak pernah merasa lelah untuk mewujudkan kebebasan itu.

Maka, wajar pula jika Romo Benny Susetyo, kolega Gus Dur yang juga Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyatakan bahwa Negara berhutang atas realisasi gagasan Gus Dur akan penghargaan terhadap perbedaan suku, agama, dan keyakinan.

Gus Dur, menurut Benny,  memiliki gagasan mengenai terbentuknya karakter bangsa yang bisa menghargai perbedaan tersebut. Karenanya, ia menyebut realisasi gagasan yang diserukan oleh Gus Dur itu sebagai bentuk utang yang harus dipenuhi oleh negara.

“Bagaimana keindonesiaan yang menghargai perbedaan agama, suku, keyakinan, dan hidup berdampingan itulah gagasan Gus Dur mengenai Indonesia. Gus Dur ingin ini menjadi kekuatan dan potensi kita. Kalau itu dikelola dengan baik, kita bisa menjadi bangsa yang besar dengan adanya kebersamaan di dalam perbedaan. Itulah makna sesungguhnya dari Bhinneka Tunggal Ika,” terang pastor yang beberapa kali bersama Gus Dur berjuang di bidang pluralisme itu. (MI, 1/1)

Lebih lanjut Benny menegaskan, kondisi negara saat ini masih belum dapat dikatakan telah membayar tuntas gagasan Gus Dur tersebut. Menurutnya, orang sudah bisa saling memahami dan toleransi. Tetapi untuk sampai pada tahap terbangunnya karakter bangsa yang menghargai perbedaan seperti cita-cita Gus Dur itu masih belum. Kelompok-kelompok minoritas di Indonesia masih belum mendapatkan hak dan kebebasan untuk menjalankan keyakinannya setara dengan yang mayoritas.

Benny, yang merupakan Pastor muda ini,  meminta pemerintah untuk mampu mengaktualisasikan prinsip-prinsip yang dibawa Gus Dur tentang keberagaman itu. Gus Dur, kata dia,  sudah memiliki prinsipnya, kemanusiaan, keadilan, dan kesatuan. Pemerintah tinggal merawat itu dengan menjalankannya sesuai prinsip dasar Bhinneka Tunggal Ika yang sudah bisa kita terima bersama.

Bagi Benny,  pemerintah juga harus menegakkan secara konstitusional dan tegas ketika ada yang merongrong Bhinneka Tunggal Ika tersebut. Pasalnya, apakah pemerintah akan mengamini dan  istiqamah dalam merealisasikan gagasan-gagasan Gus Dur tersebut? Masih penuh tanda tanya.

Pertanyaan yang tak kalah penting dari itu adalah bagaimana dengan nasib kebebasan beragama pasca mangkatnya Gus Dur? Sebagian orang yang psimis mengatakan bahwa hal itu akan berdampak pada menyusutnya perjuangan akan kebebasan beragama. Pasalnya orang yang dianggap nomor wahid dalam hal perjuangan kebebasan beragama sudah tiada. Hal itu akan berdampak pada kian maraknya kelompok yang kontra terhadap ide-ide dan iplementasi kebebasan beragama secara nyata memiliki ruang semakin luas untuk mengeliminir gerakan tersebut.

Lain halnya dengan kelompok yang selalu optimis. Meski Gus Dur telah tiada, perjuangan mewujudkan kebebasan beragama tak akan pernah surut, apalagi berhenti. Semasa hidupnya, khususnya masa dimana Gus Dur bergiat sebagai pejuang demokrasi, entah ketika menjabat sebagai ketua umum PBNU, atau ketika menjadi presiden dan sesudah ia lengser, apa yang dilakukannya telah banyak menginspirasi dan mendorong generasi seangkatannya dan generasi muda untuk melakukan hal yang sama. Mereka tak hanya yang berkiprah di dalam NU, tetapi menyebar di berbagai LSM/NGO dan organisasi social-keagamaann lainnya. Bahkan tak hanya di kalangan muslim, termasuk juga pada komunitas agama-agama lain di tanah air.

Karena itu, meski ia telah tiada, perjuangan untuk mewujudkan kebebasan beragama akan terus berlanjut. Tokoh-tokoh muda yang lahir sebagai murid ideologis Gus Dur akan selalu berada di garda depan dalam hal demokrasi dan kebebasan beragama. Tokoh-tokoh muda ini tak hanya tersebar di kalangan NU dan organissasi-organisasi afiliasinya seperti Lakspesdam NU, Fatayat NU, Gerakan Pemuda Anshor, PMII, IPNU, IPPNU, dsb, tetapi juga ada di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Jemaah Ahmadiyah, dll. Sebut saja nama seperti Said Aqil Siraj, Mustafa Bisri, Musdah Mulia, Ulil-Abshar-Abdalla, Abdul Moqsith Ghazali, Masdar F. Mas’udi, merupakan tokoh-tokoh yang selama ini berjuang bersama Gus Dur.

Dalam organisasi non-muslim terdapat KWI, PGI, PHDI, MATAKIN, Theravada, Mahayana, dll., yang kesemuanya memiliki tokoh-tokoh sentral dalam memerjuangkan kebebasan beragama. Sebut saja Andreas Yewangoe, Benny Susetyo, Gede Natih, Budi S. Tanuwibowo, Pangeran Jatikusuma, merupakan tokoh-tokoh lintas agama yang dekat dengan Gus Dur. Mereka inilah yang selalu siap untuk meneruskan perjuangan cucu pendiri NU itu. Ini  belum termasuk tokoh-tokoh muda yang bergiat dalam LSM/NGO lintas agama seperti ICRP, MADIA, Dian Interfidie, Tikar Pandan, Gemari, Dian Kasih, dll., yang juga tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, sejumlah aktivis muda dari berbagai LSM/NGO serta organisasi keagamaan dan kepemudaan juga telah melahirkan puluhan bahkan mungkin ratusan pegiat antar-agama yang focus pada isu kebebasan beragama, resolusi konflik, peace-building, dsb. Mereka tak hanya berkutat pada wilayah wacana dengan menulis sejumlah buku dan menebar gagasan-gagasan mereka di banyak media massa, tetapi juga sudah mulai membumi dengan langkah taktis dan praktis.

Jika disebutkan, diantara mereka ada nama-nama seperti Zuhairi Misrawi, M. Hilaly Basya, Piet Chaidir, Anick HT, M. Guntur Romli, Indra Prameswara, Kris Tan, Tamit, Asfinawati, Nur Khaliq Ridwan, Abd. Rozaki, Ema Mukaromah, dll. Anak-anak muda inilah yang akan meneruskan usaha-usaha yang sudah ditancapkan oleh Gus Dur semasa hidupnya.

Oleh karenanya, sepeninggal Gus Dur kaum fundamentalis, konservatif, dan radikal jangan dulu senang  dan gembira, sebab, puluhan, bahkan ratusan tokoh yang selama ini berjuang bersama Gus Dur akan senantiasa berada di garda depan dalam memerjuangkan kebebasan beragama dalam koridor bhineka tunggal ika. [ ] Ahmad Nurcholish, MaJEMUK edisi 42 Jan-Feb 2010


Responses

  1. Gus dur… dikaulah guru bangsa yang sejati, hidupmu patutlah dicontoh orang lain. jasamu selalu terkenang sepanjang masa

  2. Butir-butir pancasila yang ada di dada burung garuda harus tetap kita pertahankan sampai titik darah penghabisan seperti halnya mereka yang terlebih dahulu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: