Oleh: ahmadnurcholish | Januari 15, 2010

Menafsir Mukjiat dalam Agama-agama

Diskusi Bulanan JIL

“MENAFSIR MUKJIZAT DALAM AGAMA-AGAMA”


Narasumber: Jalaluddin Rakhmat (IJABI Jakarta), Hamid Basyaib (JIL), dan Martin Harun (STF Driyarkara Jakarta). Moderator: Saidiman.

Waktu: Kamis, 28 Januari 2010, Jam 19.00-21.30 WIB, bertempat di Teater Utan Kayu Jakarta

Kehadiran para nabi dan pendiri agama selalu lekat dengan mukjizat. Hal-hal fantastik yang susah dikunyak akal sehat begitu saja terjadi. Tubuh Ibrahim yang tak bisa terbakar api, tongkat Musa yang berubah menjadi ular raksasa, Nabi Isa yang bisa menyembuhkan orang sakit bahkan menghidupkan orang mati, dan Muhammad kecil yang selalu dinaungi awan ke mana pun ia pergi. Tentang mukjizat Nabi Muhammad, George Tharabisi dalam bukunya “al-Mu’jizat aw Subat al-Aql fi al-Islam” mencatat tidak kurang dari 3000 mukjizat yang dimiliki nabi dari tanah Arab itu. Bahkan, dalam Islam, para wali pun dianggap mempunyai mukjizat atau yang lazim disebut “karamah”.

Mukjizat-mukjizat para nabi itu kian menambah “ketakwajaran” seorang nabi. Para nabi tak bisa menjadi pusat keteladanan. Sebab, ketika para nabi berada dalam himpitan dan keterpepetan, maka mukjizat tinggal dibuat atau dihadirkan. Akhirnya, para nabi itu memang manusia, tapi tak seperti manusia pada umumnya. Implikasinya, bagi Tharabishi, umat Islam dan mungkin juga umat agama lain lantas mengalami penyumbatan nalar dan tidak dapat lagi mengalami revolusi Copernicus dalam cara berpikirnya.

Para saintis kemudian bertanya perihal kebenaran mukjizat itu. Dari sudut sains, terang bahwa setiap api membakar, dan tubuh akan leleh karena jilatannya. Awan akan bergerak sesuai tiupan angin, bukan karena hendak menaungi seseorang. Sebilah tongkat tak mungkinlah menjadi seekor ular. Dan begitu seterusnya. Pertanyaannya, bagaimana kita menafsir mukjizat dalam agama-agama seperti Islam, Yahudi, dan Kristen? Lalu bagaimana meletakkan mukjizat itu dalam konteks sains?


Responses

  1. saya seorang pelajar smp yang suka mendalami agama, saya harap informasi yang anda bubuhkan diperluas, apalagi jika dengan bahasa yang menarik, sehingga dapat menjadi hal unik dan penting dalam hidup seorang yg masih mencari jati diri seusia saya.

    • Ulasan lbh luas ttg diskusi tersebut dapat anda simak di http://www.islamlib.com. Merekalah penyelenggara acara tersebut, dan saya hanya menginformasikan saja.

      Salam,
      Nurcholish

  2. pelajaran-pelajaran agama di SD hingg SLTA memang menggambarkan ‘kesaktian’ para nabi yang sangat luar biasa itu.

  3. kenapa kaum JIL ko ga percaya pada hal irrasional yang bagi Allah hal yang kecil sekali seperti mukjizat. kenapa gak percaya tongkat nabi musa jadi ular yang dilansir dalam Al Qur’an. ato ibrahimn atau isa dst. kenapa hanya rasio saja yang dikedepankan. padahal banyak hal dalam islam yang irrasional yang hanya butuh iman saja. dan bisa saja dirasionalkan dengan ditakwil tetapi yang irrasional juga banyak terjadi. seperti dalam kecelakaan ataua kebakaran yang lain tewas ada seseorang selamat apa itu bukan pertolongan Allah atau hanya “kebetulan” saja. yang kebetulan itulah rahmat Allah. apa anda tidak merasa dalam keseharian banyak kebetulan2 yang aslinya dari Allah. pada akhirnya ketika berada pada titik nadzir kementogan rasio anda, saya yakin anda akan memalingkan keyakinan anda itu. kenapa fisafat jadi idola dengan membauang firman Allah. bukan untuk memahami. subhanallah walhamdu lillah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: