Oleh: ahmadnurcholish | September 9, 2009

Rasa Pembauran di Masjid Lautze

Masjid Lautze

Masjid Lautze

Rasa Pembauran di Masjid Lautze

Rabu, 9 September 2009 | KOMPAS.com

Umumnya di bulan Ramadan masjid mengadakan buka puasa bersama dan. tarawih berjamaah setiap hari. Namun, itu tak terjadi di Masjid Lautze di Jalan Lautze RT 10/03 Karanganyar, Sawahbesar, Jakarta Pusat.

Di masjid itu, berbuka puasa bersama dan salat tarawih berjamaah hanya dilakukan di hari Minggu. Masjid berlantai empat itu memakai dua ruko (rumah toko) yang digabung menjadi satu. Tidak ada kubah, apalagi menara. Hanya papan besar betuliskan Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) terpasang di masjid itu.

Masjid diresmikan Presiden BJ Habibie pada tahun 1991. H Karim Oei sebelumnya mengontrak ruko dan dijadikan masjid, sampai akhirnya ruko dibeli dari dana sumbangan jemaah dan donatur. Lantai satu dan dua, masing-masing seluas 100 m2 untuk tempat salat. Masjid mampu menampung sekitar 400 jemaah.

Lantai tiga dipakai untuk Sekretariat Pengurus Masjid Lautze. Di ruang itu terpampang foto H Karim Oei bersama Presiden Soekarno dan ulama Buya Hamka. Sedangkan, lantai empat digunakan sebagai aula.

Humas YHKO H Yusman Iriansyah, mengatakan, setiap hari masjid ditutup setelah salat asar. Masjid tidak menggelar salat magrib dan isya. “Sebab, jemaah di sini datang dari Jabodetabek, mereka bekerja pada siang hari dan sudah pulang sejak sore hari. Mereka hanya punya waktu di hari Minggu,” ujarnya.

Setiap Minggu, jemaah yang mayoritas adalah Muslim keturunan Tionghoa berkumpul di masjid untuk pengajian mulai pukul 10.00- 12.00, dan selepas salat zuhur pengajian khusus untuk mualaf (orang yang baru memeluk agama Islam).

Hadirnya Masjid Lautze itu juga menjadi oase baru serta kebersamaan dan kemajemukan masyarakat, terutama antara etnis Tionghoa dan pribumi. Tidak ada eksklusivitas di sana. “Pembauran di antara Muslim dan etnis China inilah yang hendak kami wujudkan, serta tidak ada lagi jarak antara warga pribumi dan nonpribumi,” kata Yusman. (Ahmad Sabran)


Responses

  1. […] https://ahmadnurcholish.wordpress.com/2009/09/09/rasa-pembauran-di-masjid-lautze/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: