Oleh: ahmadnurcholish | Agustus 25, 2008

Pentingnya Sedekah pada Orang Lain

Dari  ‘Addi ibn Hatim dari Nabi saw bersabda: “Barang siapa yang dapat melindungi dirinya dari api neraka, hendaklah ia bersedekah sekalipun hanya dengan sebutir korma. Kalau itu pun tidak ada, maka dengan kata-kata yang baik. (HR. Ahmad)

 

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (Shahih Muslim, Jilid I, h. 406) ini menjelaskan akan pentingnya bersedekah kepada orang lain. Saking pentingnya sedekah itu dilakukan sampai-sampai Nabi Muhammad saw. menekankan bahwa jika sebutir korma pun kita tidak memilikinya, maka bersedakahlah dengan kata-kata yang baik.

 

Dalam sejarah Rasulullah, sebagaimana dijelaskan oleh Husain Haykal, Nabi saw. adalah contoh manusia yang memiliki kekuatan jiwa ideal sehingga rela dan ikhlas memberikan segala yang dimilikinya kepada orang lain. Ia selalu berusaha agar dirinya tidak dikuasai oleh hal-hal material, tetapi dialah yang harus menguasainya.

 

Itulah sebabnya, mengapa Nabi begitu ketat menghindari kesenangan duniawi. Kuatnya keinginan Nabi menghindari kehidupan materi sama kuat dengan usahanya mengetahui segala rahasia di balik kehidupan materi tersebut.

 

Jika semua umat muslim mampu mengamalkan hadits di atas tentu problem kemiskinan dan pertikaian antar kelompok yang kerap terjadi di negeri ini dapat dieliminir.

 

Betapa tidak, kemiskinan tak akan menjadi problem berat jika penduduk di negeri ini, khususnya umat Islam secara sadar dan ikhlas mampu menyisihkan hartanya untuk orang lain yang membutuhkan. Kaya dan miskin adalah fakta social yang tidak terhindarkan. Tetapi, sejauh mana kita mampu menjembatani jurang antara keduanya?

 

Sedekah adalah salah satunya. Pun dalam anjuran Rasulullah saw. dalam hal ini tak harus banyak dalam artian memberatkan sang empunya harta. Nabi bahkan mengatakan dengan sebutit korma pun bisa dilakukan. Ini menunjukkan betapa pentingnya sedekah itu dilakukan.

 

Paling tidak ada tiga hikmah yang dapat kita petik dari amal sedekah ini. Pertama, dengan bersedekah berarti kita telah melaksanakan kewajiban atas harta yang kita miliki. Dengan sedejkah pula kita urut meringankan beban yang dipikul oleh orang lain yang membutuhkan.

 

Di negeri ini banyak penduduk yang mengalami kelaparan hingga berbuntut busung lapar. Ini terjadi karena distribusi ekonomi yang tidak merata. Sedekah adalah merupakan media pendistribusian ekonomi dalam Islam yang memungkinkan peredaran harta kekayaan itu mampu memenugi kebutuhan masyarakat.

 

Kedua, dengan bersedekah berarti kita telah menjaga ukhuwah Islamiyah di antara umat Islam itu sendiri. Dengan bersedekah berarti jalinan tali kasih di antara umat Islam terjalin dengan nyata melalui amal yang nyata pula. Tidak hanya retorika, tetapi mewujud melalui pemberian sebagian harta yang kita miliki kepada orang lain.

 

Ketiga, bersedekah tak mesti dengan harta. Nabi, sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas, jika kita tak mampu bersedekah dengan harta, dengan kata-kata yang baik pun merupakan sedekah.

 

Betapa mulianya ajaran ini. Kata-kata pun dapat kita jadikan sedekah yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. bagi diri sendiri akan terasa damai, tentram dan tenag jika kita senantiasa berkata dengan baik. Tidak menyindir orang lain. tidak melukai orang lain. Dengan begitu insya-Allah kita tak akan pernah mempunyai musuh oleh karena kata-kata yang kita ucapkan.

 

Dalam konteks keindonesiaan, kata-kata yang baik ini pun terasa makin langka, terutama di dunia politik kita. Sudah jarang kita mendengar ungkapan menyejukkan dari para pimpinan kita. Makin jarang pula kita melihat di antara elit politik tidak menyerang satu dengan yang lain dengan kata-kata yang enak didengar.

 

Oleh karenanya hadits di atas hendak mengingatkan kita untuk senantiasa memperbaiki diri dengan bersedekah, meski hanya dengan kata-kata yang baik. Apalagi oleh Nabi Muhammad saw., hal ini merupakan upaya untuk terhindar dari sisksa api neraka.

 

Namun, jangan lantas kita bersedekah hanya semata-mata karena itu, yakni takut akan sisksa api neraka.[ ] Ahmad Nurcholish

 

 

 


Responses

  1. rujukan yang berasal dari Al Qur’an belum dimasukkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: