Oleh: ahmadnurcholish | Agustus 19, 2008

Tragedi Monas Isu Paling Sensitif

Peristiwa penyerangan massa Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI) terhadap massa AKKBB di Silang Monas 1 Juni lalu menjadi isu paling senditif di ruang redaksi pemberitaan media. Perbedaan pandangan dalam soal politik maupun ekonomi bisa diselesaikan dengan relatif rleks, tapi tidak untuk peristiwa Monas.

 

Hal ini dikatakan Andy Budiman saat menjadi pembicara dalam diskusi publik ”Tragedi Monas: Liputan Media Massa” di Pusat Study Islam Paramadina Jakarta, Selasa, 29 Juli lalu.

 

Menurut koordinator liputan Liputan 6 SCTV ini tak ada isu yang membuat ”ketegangan” tersendiri di ruang redaksi sebagaimana peristiwa Monas. Tragedi ini juga termasuk peristiwa yang paling menyedot media terutama televisi. ”Satu peristiwa, banyak tafsir. Meski kata orang ”the camera never lies”,” kata Andy.

 

Nyaris, imbuh Andy, semua stasiun televisi ketika itu menyiarkan gambar yang sama berulang-ulang kurang lebih dalam waktu sepekan. Yang membedakan adalah framing berita, entah itu lewat labelisasi maupun kutipan dari para aktor yang berseberangan yakni AKKBB atau FPI/LKI beserta pendukung dan simpatisannya.

Dalam soal labelisasi misalnya, kelompok AKKBB direduksi sebagai pembela Ahmadiyah. Persepsi yang hendak dibangun lewat labelisasi ini bisa jadi adalah, AKKBB sebagai pembela aliran sesat. Padahal, AKKBB ”hanya” membela hak-hak mereka sebagai warga negara yang dilindungi konstitusi negara.

Andy mengaku, sebagai wartawan yang sudah malang melintang selama  12 tahun, merasa isu Monas merupakan salah satu isu paling sensitif ketika masuk sidang redaksi. Ketika mulai dibahas, kata dia, semua awak redaksi langsung mengambil posisi merentangkan kaki dan  kelihatan dari gestur mereka,  tegang!.

 

Produser Topik Minggu Ini SCTV ini juga menuturkan bahwa sikap masing-masing awak redaksi juga terbelah. Misalnya ada yang melihat bahwa tragedi Monas dipicu oleh FPI. Ada juga yang melihat, atau mencoba melihat dengan kacamata lain. ”Misalnya karena adanya provokasi dari AKKBB melalui iklan koran yang mereka muat beberapa hari sebelumnya,” kata Andy. ”Bahasanya persis seperti yang dibangun oleh kelompok FPI, dkk,” imbuhnya.

 

Selain itu, lanjut Andy, ada juga yang mengambil posisi tengah-tengah, sambil mengajak untuk melihat akar masalahnya. ”Akar masalah dari ini semua adalah Ahmadiyah,” tandas Andy menirukan seorang rekannya. Dan Ahmadiyah, kata Andy,  dalam persepsi beberapa wartawan sebagai aliran sesat. Ini terjadi karena wartawan tersebut menggunakan preferensi ideologi tertentu dalam men-judgtment  isu tersebut.

 

Bagi Ade Armando, pembicara kedua, jika menelisik ke belakang,  sebelum tragedi terjadi sebetulnya  kita sudah bisa menduga akan terjadi sesuatu. Menurutnya, karena antara lain, waktu itu, konteksnya, permintaan terus menerus kepada pemerintah agar mengeluarkan SKB Tiga Menteri tentang pelarangan Ahmadiyah segera diwujudkan. Ketika itu juga, kata Ade, sudah ada pidato-pidato penuh kebencian yang disampaikan oleh Sobri Lubis Sekjen Front Pembela Islam. ”Kami ada rekamannya,” tuturnya. Karenanya, imbuh Ade, tragedi tersebut seharusnya bisa dicegah. [ ] Ahmad Nurcholish

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: