Oleh: ahmadnurcholish | Agustus 15, 2008

Islam Rahmat untuk Seluruh Alam

Nabi Muhamad saw. bersabda: “Aku diutus Tuhan hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” HR. Imam Malik bin Anas dan Imam Ahmad bin Hambal.

 

Untaian hadits di atas tertuang dalam Al-Muwaththa karya Malik bin Anas, Kitab: Husn al-Khuluq, No. Hadits: 1609, juz II, hlm.904, dan Al-Musnad karya Ahmad bin Hambal, juz II, hlm.381.

 

Hadits ini merupkan penegasan kembali dari firman Allah yang tertuang dalam QS. Al-Anbiya’/21:107:

 

“Aku utus kamu (Muhammad) hanya untuk menyebarkan rahmat Tuhan pada alam semesta.” (Wa maa arsalnaa ka illa rahmatan li al-aalamiin).

 

Dari hadits di atas sebenarnya kita dapat memahami bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad dengan ajaran Islamnya hendak memberikan rahmat untuk seluruh alam semesta tanpa terkecuali, karena hal itu merupakan amanah yang diberikan oleh Allah swt. kepadanya.

 

Dengan pernyataan Nabi Muhammad tersebut kita juga dapat mengatakan secara lebih konkret bahwa cita-cita al-Qur’an sesungguhnya adalah tegaknya kehidupan manusia yang bermoral luhur dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal (humanisme universal). Karena al-akhlaq adalah bentuk plural (jama’) dari kata al-khuluq yang memiliki akar kata yang sama dengan al-khalq (penciptaan), al-khaliq (pencipta), dan al-makhluq (yang diciptakan).

 

Dalam pandangan Kiyai Huseyn Muhammad (2001: 16), pengasuh Pondok Pesantren Dar at-Taqwa, Arjawinangun Cirebon, prinsip-prinsip kemanusiaan universal itu antara lain diwujudkan dalam upaya-upaya penegakan keadilan, kesetaraan, kebersamaan, kebebasan, dan penghargaan terhadap orang lain, siapapun dia. Ini semua berlaku secara universal. Semua orang di mana pun di muka bumi ini, kapan pun dan dengan latar belakang apa pun, mencita-citakan hal-hal tersebut. Pernyataan-pernyataan mengenai prinsip-prinsip ini dapat kita jumpai dalam banyak tempat di dalam al-Qur’an.

 

Menurut Huseyn, sebagai cita-cita atau visi, semua prinsip di atas haruslah menjadi dasar bagi pikiran, pandangan, dan aktivitas kita ketika melakukan kajian terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan persoalan-persoalan yang lebih spesifik dan particular.

 

Dalam arti lain, ayat-ayat yang membicarakan mengenai suatu persoalan yang terjadi dalam masyarakat ketika ayat-ayat itu dihadirkan haruslah dipandang sebagai suatu petunjuk belaka tentang bagaimana mengimplementasikan cita-cita di atas dalam realitas sejarah yang menyertainya.

 

Sebut saja soal hudud, rajam, qishash, potong tangan, dsb, yang secara terang dipaparkan dalam  al-Qur’an oleh sebagian besar umat Islam dipandang sebagai ayat-ayat yang qath’i (pasti), tidak dapat diubah dalam implementasinya. Tetapi, bagi sebagian umat Islam, ayat-ayat semacam itu juga merupakan suatu petunjuk belaka untuk menerapkan prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan universal. Artinya, hudud, rajam, qishash, dan potong tangan hanyalah instrument yang bias jadi efektif untuk dapat dilakukan ketika masa itu (Kenabian Muhammad), tetapi belum tentu efektif jika kita implementasikan dalam konteks keindonesiaan dan kekinian.

 

Wacana seperti ini dapat dipahami secara jelas dengan merenungkan alasan mengapa al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus, melainkan secara bertahap dan gradual. Cara penurunan wahyu seperti itu memang sangat indah dan mengagumkan. Ini merupakan bentuk kearifan Tuhan yang luar biasa. Dengan cara seperti ini, al-Qur’an yang dibawa Nabi berhasil merealisasikan misinya untuk menegaknya kehidupan manusia yang bermoral luhur dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal.

 

Al-Qur’an telah berhasil membawa kehidupan masyarakat Arab dalam nuansa-nuansa yang sangat sesuai dengan ruang dan waktu yang dibutuhkan. Tentu tidak mengherankan jika dalam tempo yang teramat singkat al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw telah mengubah dunia Arab dari kondisi sebelumnya yang suram, muram dan kelam menjadi cerah dan beradab.

 

Tantangan kita (umat Islam) dewasa ini adalah bagaimana cita-cita sekaligus keberhasilan yang sudah ditorehkan oleh Nabi Saw dapat terus diimplementasikan di tengah masyarakat yang plural. Apalagi ditengah stigma bahwa Islam adalah agama yang berwajah sangar dan garang beberapa waktu terakhir belum juga pupus.

 

Kini saatnya kita tampilkan wajah Islam yang ramah, mendamaikan, mencerahkan serta membebaskan seluruh umat manusia, sebagai tanggungjawab untuk mewujudkan misi Islam sebagai agama rahmatan li al-alamiin. Wallahua’lam. [ ] Ahmad Nurcholish

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: