<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Nurcholish &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Dec 2009 07:46:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ahmadnurcholish.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/afde064e1842092a91b490b24be1a99b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ahmad Nurcholish &#187; Artikel</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/osd.xml" title="Ahmad Nurcholish" />
		<item>
		<title>Ber-Tuhan ala Einstien</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2009/11/03/ber-tuhan-ala-einstien/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2009/11/03/ber-tuhan-ala-einstien/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 04:36:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Einstien]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=549</guid>
		<description><![CDATA[Ber-Tuhan ala Einstein
Ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya.  
Pada tahun 1940, Albert Einstein menulis sebuah esai menggemparkan berjudul Science and Religion. Esai itu sontak menggoreskan berbagai kontroversi, khususnya di kalangan agamawan dan teolog. Pasalnya, melalui esai itu, Einstein menggusur konsep Tuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=549&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><a title="Ber-Tuhan ala Einstein" href="http://islamlib.com/id/artikel/ber-tuhan-ala-einstein/"><img class="alignright size-medium wp-image-550" title="Cover Einstein depan" src="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2009/11/cover-einstein-depan.jpg?w=200&#038;h=300" alt="Cover Einstein depan" width="200" height="300" />Ber-Tuhan ala Einstein</a></strong></p>
<p><em>Ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya. </em><strong><em> </em></strong></p>
<p>Pada tahun 1940, Albert Einstein menulis sebuah esai menggemparkan berjudul <em>Science and Religion</em>. Esai itu sontak menggoreskan berbagai kontroversi, khususnya di kalangan agamawan dan teolog. Pasalnya, melalui esai itu, Einstein menggusur konsep Tuhan yang telah dibangun oleh para teolog sejak berabad-abad silam. Einstein kemudian menyebut Tuhan ala teolog itu sebagai Tuhan Personal yang tampak begitu kerdil baginya.<br />
<span id="more-549"></span><br />
Einstein menyikapi konsep Tuhan Personal ala teolog itu secara apatis. Dalam pandangannya, Tuhan Personal itu ternilai terlalu sederhana dan dangkal. Baginya, konsep Tuhan ala para teolog itu justru menggerogoti transendensi Tuhan seiring dilekatkannya simbol-simbol, bentuk (<em>morphe</em>) serta kecenderungan kemanusiaan (<em>pathos</em>) untuk menggapai Yang Transenden itu.</p>
<p>Sebelumnya, pada tahun 1929, setelah membaca dan terpengaruh oleh hipotesa Spinoza dalam karyanya yang berjudul <em>Ethics,</em> Einstein sejatinya telah mulai memaparkan kritikannya pada konsep Tuhan Personal ala para teolog itu. Saat itu pula, Kardinal O’Connell, Uskup Agung Boston, memberikan respon negatif ofensif dengan meneriakkan kepada Jemmaat New England Catholic Club Amerika agar tak membaca apapun tentang teori relativitas. Dengan alasan, teori tersebut merupakan sebuah spekulasi kabur yang menghasilkan keraguan universal tentang Tuhan dan ciptaan-Nya. Menurutnya, teori itu tak lain merupakan selubung hantu ateisme yang mengerikan (New York Times, 25 April 1929).</p>
<p>Mendengar pernyataan serta sikap keras yang ditempuh oleh Uskup Agung tersebut, Rabbi Herbert S. Goldstein dari The Institutional Sinagoge di New York bertanya pada Einstein melalui telegram; “Apakah Anda percaya Tuhan?” Einstein pun menjawab; “Saya percaya pada Tuhan-nya Spinoza yang menampakkan diri-Nya dalam harmoni keteraturan atas keseluruhan yang ada. Bukan sosok Tuhan yang menyibukkan diri-Nya dengan nasib dan tindakan-tindakan manusia”. Dan, membaca jawaban Einstein tersebut Rabbi Goldstein pun menegaskan bahwa tuduhan ateis pada Einstein jelas-jelas tak terbukti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun setelah esai 1940 yang berisi pemaparan cukup komprehensif tentang kritiknya atas Tuhan-nya teolog dan konsep Tuhan Impersonal-nya itu terbit, ia pun sontak mendapat serangan serempak dari mayoritas teolog –khususnya teolog Yahudi ortodoks- dengan kekuatan dogma kafir dan ateis. Namun, Einstein selalu menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang ateis. Bahkan, ia ternilai memiliki konsep Tuhan yang jauh lebih mentransendensikan-Nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terpengaruh dari Spinoza, setelah menggusur konsep Tuhan Personal-nya para teolog, Einstein menggagas konsep Tuhan Impersonal. Dalam pandangannya, Tuhan merupakan Kecerdasan Tertinggi yang menampakkan dirinya dalam harmoni dan keindahan alam. Dia tidaklah ber-’sosok’. Tuhan adalah struktur pengatur kosmis yang impersonal. Baginya, sesuatu yang oleh Injil disebut sebagai aktifitas Ilahi tak lain semacam hukum ketentuan alam. Sedangkan sesuatu yang disebut sebagai kehendak Tuhan tak lain adalah hukum alam. Tuhan-nya Einstein itu merupakan entitas abstrak sebagaimana diungkapkan Injil; “Janganlah kamu membuat patung berhala atas-Nya atau keserupaan dengan macam-macam benda”. (Eksodus 20:4)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terlepas dari sederetan kontroversinya, pada dasarnya konsep Tuhan ala Einstein tersebut akan semakin mendewasakan keber-tauhid-an dan keberagamaan manusia. Pasalnya, pertama, konsep Tuhan ala Einstein akan relatif menjaga transendensi Tuhan. Sebab, konsep tersebut ternilai akan selalu menjauhkan Tuhan dari simbol, bentuk (<em>morphe</em>) maupun kecenderungan kemanusiaan (<em>pathos</em>) yang dapat menggiring Tuhan pada ‘jurang’ imanensi, sebagaimana kerap terjadi pada Tuhan-nya para teolog.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua, konsep agama kosmis yang lahir dari ‘rahim’ Tuhan Impersonal secara tidak langsung akan memacu kedewasaan manusia dalam beragama. Sebab, dalam konsep agama kosmis, rasionalitas dan kebebasan memiliki ruang ekspresi yang lebih leluasa dan terjunjung tinggi. Dalam agama kosmis, Tuhan bukanlah ‘sosok’ yang selalu mengikat dan menjajah manusia di bawah kehendak-Nya. Sebagaimana ditegaskan Einstein, dalam agama kosmis, Tuhan bukanlah ‘sosok’ yang kehendak-Nya seperti kehendak dalam diri setiap manusia; mutlak bagi setiap diri manusia. Sehingga, dalam konsep agama kosmis ala Einstein, setiap manusia memiliki ruang kebebasan dan berkehendaknya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketiga, dengan determenisme dan kausalitas ketat yang menjadi konsekuensi logis atas konsep Tuhan Impersonal ala Einstein, maka naluri serta tanggung jawab sosial-ekologis manusia akan terdongkrak. Sebab, bayang-bayang akan bencana ekologis dan kemanusiaan setidaknya akan memberikan bayangan buruk sekaligus pertimbangan signifikan bagi setiap individu yang hendak mengeksploitasi alam maupun manusia. Terlebih, sebagaimana ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akhirnya, merujuk pada konsep Tuhan ala Einstein, sejatinya ber-Tuhan bukan berarti menafikan eksistensi diri dan menyerahkan seluruh kehendak dan kebebasan kita pada Tuhan secara mutlak. Namun, sebagaimana ditegaskan Einstein, ber-Tuhan sejatinya justru harus ber-‘metamorfosis’ menjadi semangat dan tuntutan untuk selalu berupaya keras melalui pengetahuan rasional secara bebas untuk mencapai hakikat-Nya. Bukan dengan rasa takut-terikat maupun keyakinan yang buta. <em>Wallahu a’lam </em>[] <strong>Husein Ja’far Al Hadar </strong>(07/10/09)/ http://islamlib.com/id/artikel/ber-tuhan-ala-einstein/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/549/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=549&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2009/11/03/ber-tuhan-ala-einstien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2009/11/cover-einstein-depan.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Einstein depan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir &#8220;Rajam&#8221; dalam Islam</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2009/10/31/tafsir-rajam-dalam-islam/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2009/10/31/tafsir-rajam-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:55:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[abd moqsith ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>
		<category><![CDATA[rajam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=543</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir “Rajam” dalam Islam
Kita bisa mencari jenis-jenis hukum lain yang lebih relevan dan sesuai dengan konteks keindonesiaan
&#160;
&#160;
Rajam adalah sanksi hukum berupa pembunuhan terhadap para pelaku zina muhshan (yaitu orang yang berzina sementara ia sudah pernah menikah atau masih dalam ikatan pernikahan dengan orang lain). Rajam dilakukan dengan cara menenggelamkan sebagian tubuh yang bersangkutan ke dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=543&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><img class="alignright size-medium wp-image-544" title="rajam" src="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2009/10/rajam.jpg?w=300&#038;h=269" alt="rajam" width="300" height="269" /><span style="color:#ff0000;">Tafsir “Rajam” dalam Islam</span></strong></p>
<p><em>Kita bisa mencari jenis-jenis hukum lain yang lebih relevan dan sesuai dengan konteks keindonesiaan</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rajam adalah sanksi hukum berupa pembunuhan terhadap para pelaku zina muhshan (yaitu orang yang berzina sementara ia sudah pernah menikah atau masih dalam ikatan pernikahan dengan orang lain). Rajam dilakukan dengan cara menenggelamkan sebagian tubuh yang bersangkutan ke dalam tanah, lalu setiap orang yang lewat diminta melemparinya dengan batu-batu sedang (<em>hijarah mu`tadilah</em>) sampai yang bersangkutan meninggal dunia.</p>
<p><span id="more-543"></span></p>
<p>Hukum rajam pernah berlaku pada zaman Nabi Musa. Dalam Perjanjian Lama, Ulangan 22: 22 disebutkan, “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel”.</p>
<p>Bahkan seorang gadis perawan pun ketika berzina harus dihukum mati. Disebutkan dalam ayat 23 dalam pasal dan surah yang sama Perjanjian Lama, “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan&#8211;jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengah mereka”. Mungkin berdasar kepada dalil-dalil itu, ketika di Madinah Rasulullah SAW pernah merajam laki-laki dan perempuan Yahudi yang berzina.</p>
<p>Dalam al-Qur’an, ayat rajam tak tercantum. Namun, sejumlah kitab fikih menjelaskan bahwa pada mulanya ayat rajam itu temaktub dalam al-Qur’an. Dalam perkembanganya, ayat itu dihapuskan walau hukumnya tetap berlaku (naskh al-rasm wa baqa’ al-hukm). Ayat tersebut berbunyi al-syaiku wa al-syaikhatu idza zanaya farjumuhuma al-battatah nakalan min Allah (laki-laki dan perempuan yang berzina, maka rajamlah secara sekaligus, sebagai balasan dari Allah). Ayat inilah yang menjadi pegangan para ulama pendukung hukum rajam. Sebuah hadits menyebutkan, “inna al-rajm haq fi kitabillah `ala man zana idza ahshana min al-rijal wa al-nisa’, idza qamat al-bayyinah, aw kana al-haml, aw al-i`tiraf”. Bahwa sesungguhnya rajam itu ada di dalam Kitabullah, yang wajib diperlakukan buat laki-laki dan perempuan yang berzina muhshan, ketika sudah cukup bukti, atau sudah hamil atau mengaku berzina.</p>
<p>Dikisahkan bahwa hukum rajam pernah diterapkan pada zaman Nabi. Yaitu, ketika Ma`iz ibn Malik al-Aslami dan Ghamidiyah yang mengaku (i`tiraf) kepada Nabi bahwa dirinya telah berzina dengan seorang perempuan. Dengan itu, mereka meminta untuk dirajam. Nabi berkali-kali menolak dan tak segera memenuhi permintaan yang bersangkutan. Namun, mereka tetap ngotot bahwa dirinya telah melakukan zina muhshan. Akhirnya Nabi “terpaksa” menyanksinya dengan dirajam. Mungkin Nabi berharap agar yang bersangkutan tak mengaku berzina secara terus terang. Toh, dalam kesendiriannya ia bisa bertaubat kepada Allah SWT atas dosa-dosanya.</p>
<p>Kini banyak orang bertanya tentang perlu dan tidaknya menerapkan hukum rajam. Saya kira ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Pertama, rajam dalam Islam termasuk syar`u man qablana (syariat pra-Islam). Al-Qur’an banyak mengintroduksi hukum-hukum yang berlaku pada era sebelum Islam, seperti hukum Yahudi. Di samping soal rajam, al-Qur’an misalnya mengutip syariat Nabi Musa yang memperbolehkan bunuh diri. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an (al-Baqarah: 54), “Ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri karena kalian telah menjadikan anak lembu sebagai sesembahan kalian, maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menciptakan kalian dan bunuhlah diri kalian sendiri. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian pada sisi Tuhan yang menciptakan kalian. Maka Allah akan menerima taubat kalian. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang”.</p>
<p>Para ulama fikih sendiri berbeda pendapat tentang posisi syar’u man qablana sebagai dalil hukum (hujjah syar’iyah). Sebagian ulama berpendapat bahwa syar`u man qablana menjadi bagian ajaran Islam jika itu sudah disebut dalam al-Qur’an. Sebagian yang lain berkata, bahwa syar’u man qablana bukanlah syari’at kita (umat Islam) karena itu kita tak boleh menjadikannya sebagai dalil hukum. Dengan argumen itu tak sedikit para ulama yang menolak pemberlakuan syar’u man qablana. Dengan itu, menurutnya, hukum rajam tak perlu diterapkan sebagaimana kita tak menerapkan hukum bunuh diri sebagai jalan taubat, sekalipun itu sudah tercantum dalam al-Qur’an.</p>
<p>Kedua, rajam tak efektif menjerakan para pelaku perzinaan, karena yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Ia tak sempat lagi memperbaiki diri. Padahal, jelas dikemukakan para ahli fikih bahwa sanksi-sanksi hukum dalam Islam berfungsi untuk menjerakan para pelaku pidana (al-hudud zawajir la jawabir). Ketiga, rajam akibat perzinaan muhshan dalam konteks sekarang potensial merugikan perempuan. Kaum perempuan tak mudah untuk menghindar dari tuduhan zina sekiranya telah terjadi kehamilan sementara yang bersangkutan diketahui publik tak punya suami. Sementara pezina laki-laki bisa menghindar dari dakwaan zina, terlebih menghadirkan empat orang saksi yang melihat secara persis perzinaan itu, seperti dikehendaki al-Qur’an, bukanlah perkara mudah.</p>
<p>Keempat, kelompok Mu’tazilah dan Khawarij berpendapat ayat apalagi hadits yang menegaskan tentang hukum rajam bagi pezina muhshan sudah dihapuskan oleh ayat al-Qur’an (al-Nur: 2), yaitu “al-zaniyatu wa al-zani fajlidu kulla wahidin minhuma mi’ata jaldatin wa la ta’khudkum bihima ra’fatun fi din Allah in kuntum tu’minuna bi Allah wa al-yawm al-akhir wa al-yasyhad `adzabahuma tha’ifatun min al-mu’minin” (pezina perempuan dan laki-laki, pukullah sebanyak 100 kali pukulan. Janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman). Memang al-Qur’an sendiri, seperti dalam Mushaf Utsmani, tak membedakan antara pezina muhshan dan ghair muhshan. Pertimbangan ini sekalipun hadir dengan argumen yang belum kukuh bisa dipertimbangkan sebagai salah satu argumen untuk menolak penerapan hukum rajam.</p>
<p>Kelima, al-Qur’an tak memberikan hukum tunggal bagi orang yang berzina. Jika kita sepakat bahwa zina adalah perbuatan keji (fahisyah), maka sanksi hukum bagi pezina, baik yang muhshan maupun yang bukan, maka al-Qur’an memberi sanksi tahanan rumah seumur hidup. Disebutkan dalam al-Qur’an (surat al-Nisa’: 15), “Dan terhadap perempuan yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu yang menyaksikannya. Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah perempuan-perempuan itu sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepada mereka”.</p>
<p>Bahkan di ayat berikutnya (ayat 16) tak dijelaskan jenis hukuman bagi para pezina, “Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kalian, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang”. Qatadah dan al-Sudi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan adzuhuma dalam ayat itu adalah dengan cara mempermalukan, menjelek-jelekkan, dan mencacinya (al-taubikh wa al-ta`yir wa al-sabb). Kalu kita bersepakat dengan ulama yang menolak konsep nasikh-mansukh dalam al-Qur’an, maka ayat ini tak bisa dianulir oleh ayat dan hadits yang memerintahkan rajam dan hukuman dera sebanyak 100 kali deraan. Mujahid misalnya berpendapat bahwa ayat 15 surat al-Nisa’ adalah sanksi hukum bagi pezina perempuan, sementara ayat 16 surat yang sama adalah sanksi hukum bagi para pezina laki-laki. (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Jilid III, hlm. 80)</p>
<p>Akhirnya, bisalah dikatakan bahwa ayat yang terkait dengan sanksi hukum seperti rajam merupakan fikih jinayat al-Qur’an yang pada tingkat implementasinya tak otomatis bisa dijalankan. Artinya, umat Islam bisa mencari sanksi-sanksi hukum yang paling mungkin dan efektif untuk menjerakan para pelaku kriminal. Bisa dengan cara dipenjara atau yang lainnya. Ibn Zaid pernah mengusulkan agar orang yang berzina dilarang menikah sampai yang bersangkutan meninggal dunia. (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Jilid III, hlm. 79). Sebagian ulama, seperti Muhammad Syahrur, berpandangan bahwa hukum potong tangan dan rajam merupakan hukum maksimal (<em>al-hadd al-a`l</em>a) yang hanya bisa dijalankan ketika sanksi-sanksi hukum di bawahnya tak lagi efektif untuk mengurangi tingkat kriminalitas.</p>
<p>Dengan memperlakukan ayat-ayat jinayat sebagai fikih al-Qur’an, maka kita tak lagi terikat untuk memaksakan penerapan sanksi-sanksi hukum itu seperti yang secara harafiah disebut dalam al-Qur’an. Kita bisa mencari jenis-jenis hukum lain yang lebih relevan dan sesuai dengan konteks keindonesiaan kita. Yang penting tujuan dari sanksi-sanksi hukum Islam untuk menjerakan para pelaku tindak pidana sudah tercapai.  Wallahu A`lam Bishshawab. [] Dr. Abdul Moqsith Ghazali/www.islamlib.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/543/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=543&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2009/10/31/tafsir-rajam-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2009/10/rajam.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">rajam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berharap Pada Yang Muda</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/12/01/berharap-pada-yang-muda/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/12/01/berharap-pada-yang-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 12:50:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[
Toleransi dan Perdamaian 
Berharap Pada Yang Muda 
Oleh Ahmad Nurcholish


Rentang Oktober – November lalu paling tidak telah digelar tiga even dialog antaragama. Pertama, program Bilateral Interfaith Dialogue yang dihelat pada 12-14 Oktober 2008 di Beirut, Lebanon. Kali ini mengangkat tema “Promoting Interfaith Dialogue among Plural Society”. Kedua, dialog Islam-Kristen yang dilaksanakan di Vatikan, 4-6 November [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=412&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#4f81bd;"><a href="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/12/dsc_01091.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-414" title="dsc_01091" src="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/12/dsc_01091.jpg?w=63&#038;h=96" alt="dsc_01091" width="63" height="96" /></a>Toleransi dan Perdamaian </span></p>
<p><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;color:red;">Berharap Pada Yang Muda </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Oleh Ahmad Nurcholish</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="color:#365f91;">Rentang Oktober – November lalu paling tidak telah digelar tiga even dialog antaragama. Pertama, program Bilateral Interfaith Dialogue yang dihelat pada 12-14 Oktober 2008 di Beirut, Lebanon. Kali ini mengangkat tema “Promoting Interfaith Dialogue among Plural Society”. Kedua, dialog Islam-Kristen yang dilaksanakan di Vatikan, 4-6 November 2008. Ketiga, sepekan kemudian, atas inisiatif Raja Abdullah dari Arab Saudi, menggelar dialog antaragama tingkat dunia pada 12-13 November 2008 di Markas Besar PBB di New York. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span id="more-412"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Dari ketiga even tersebut dapat kita tarik benang merah bahwa sesungguhnya dunia sangat berharap dialog antaragama menjadi tradisi mulia dari setiap pemeluk agama<span> </span>apapun namanya. Diharapkan, dari dialog itu akan terbangun saling keterbukaan, toleransi, yang pada ujungnya mampu mewujudkan perdamaian.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Dalam ranah sejarah, tradisi dialog antaragama sebetulnya sudah menjadi kebiasaan sejak peradaban agama manusia itu berlangsung. Bentuk dan momennya saja yang berbeda-beda. Intinya, tujuannya sama saja: toleransi dan perdamaian. Hanya saja, meski sudah berlangsung sejak itu, pertiakian, konflik, pertumpahan darah yang disebabkan oleh ‘perang agama’ masih saja kerap terjadi di beberapa belahan bumi ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Tak terkecuali Indonesia. Negeri yang bersemboyan Bhineka Tunggal Ika ini sudah mentradisikan dialog antaragama sejak paruh 70-an silam. Nyatanya, impian untuk mewujudkan kehidupan yang toleran, damai nirkekerasan masih jauh dari kenyataan. Meski di beberapa daerah yang sebelumnya kita kenal sebagai zona konflik seperti Ambon, Maluku, Sambas, Aceh, dll tak lagi diwarnai konflik dan cenderung meredup, tetapi, ada sejumlah zona baru yang selama ini kita kenal adem-ayem justru memiliki potensi konflik yang laten. Bentuknya pun bisa mengambil pola yang sama sekali berbeda.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Jika di zona-zona yang selama ini kita kenal sebagai daerah konflik karena factor agama (?), pada zona-zona baru ini justru bukan bersumber deari itu. Ia bisa bermuara dari masalah politik dan kekuasaan yang bemula dari Pilkada dan semacamnya. Tentu ini tak dapat disepelekan begitu saja. Sejumlah contoh seperti konflik berkepanjangan sebagai terjadi di beberapa daerah telah memakan banyak korban baik material maupun (ini yang terpenting) spiritual. Spirit kebersamaan, persatuan dan demokrasi nampaknya telah lenyap dari hamparan negeri ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Bukankah hal itu yang tidak kita harapkan? Padahal sesungguhnya, dari sanalah (kebersamaan, persatuan dan demokrasi) merupakan tonggak penting dari perwujudan toleransi dan perdamaian. Jika demikian lalu apa yang dapat kita lakukan? Pada siapakah kita berharap agar negeri ini khususnya dan dunia pada umunya mampu mewujudkan toleransi dan perdamaian sebagaimana harapan setiap insan?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong>Generasi Muda</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Nampaknya sangat beralasan jika kita betharap pada yang muda. Mengapa? Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu kelemahan dari dialog antaragama selama ini adalah pertama, modelnya yang elitis, di mana tema dan person serta kalangan yang dilibatkan masih sangat elitis. Kedua, masih langkanya anak muda dilibatkan dalam hajatan luhur itu. Kalau toh terlibat, sebatas pada pelengkap dan cenderung<span> </span>karitatif sebagaimana disorot dalam <em>Forum Group Discussion</em> (FGD) CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beberapa waktu lalu (MaJEMUK, ed. 33).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Lantas mengapa harus anak muda? Pertama, sejarah membuktikan bahwa anak mudalah yang selama ini memberikan kontribusi penting terhadap agenda-agenda kebangsaan dan peradaban manusia. Dalam konteks Indonesia, momen Sumpah Pemuda pada 1928 silam merupakan bukti bahwa anak muda telah menjadi inisiasi terdepan sekaligus simpul perwujudan dari persatuan dan kesatuan bangsa ini. Karenanya bukan tidak mungkin dalam upaya mewujudkan toleransi dan perdamaian kita berharap pada mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Apa yang sudah dilakukan ICRP dan Gemari (Forum Generasi Muda Antariman), baik ketika bekerjasama dengan World Asosiasion of Non-Government Organization (WANGO) USA tahun 2005 dan dengan CWS Indonesia pada medium 2008 lalu merupakan bukti bahwa anak muda masih dapat dilibatkan sekaligus digerakkan untuk menjadi inisiasi dan actor intelektual untuk memberikan perubahan. (MaJEMUK ed. 33 &amp; 34).<span> </span>Meski masih dalam sekala local dan baru pada tahap karitatif, namun, dampaknya mampu dirasakan oleh peserta itu sendiri dan juga masyarakat sekitar pada lingkup yang lebih luas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Kedua, dari pengalaman sederhana namun mampu memberikan dampak yang luar biasa itu sebetulnya tinggal beberapa langkah lagi kita dapat melanjutkan dengan kegiatan-kegiatan yang langsung menyentuh pada kebutuhan dan persoalan riil di lingkungan masing-masing. Dari sanalah kemudian akan terdeteksi dari mana sebetulnya generasi muda ini akan melangkah. Misalnya saja, jika pada tahap awal kemarin mereka melakukan kegiatan untuk saling mengenal melalui kunjungan ke rumah-rumah ibadah dan bertanding Futsal, pada tahap berikutnya dapat ditingkatkan ke tahap yang lebih serius tetapi tetap dengan gaya santai. Outbond, Youth Camp/ Live In yang disertai dengan bakti social pada masyarakat sekitar adalah salah satu contohnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Ketiga, dari kegiatan-kegiatan yang dicontohkan pada poin 2 di atas diharapkan karena intensitas komunikasi dan pergaulan diantara kaum muda semakin tinggi dapat membuka wawasan, rasa keterbukaan, tak ada lagi saling curiga, sehingga bermuara pada rasa kebersamaan untuk mencari solusi pada masalah-masalah yang ada. Tahap berikutnya adalah mereka mampu merumuskan kerja-kerja riil yang berkelanjutan yang menyentuh berbagai persoalan yang ada di masyarakat plural.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Keempat, tentu inisiasi dari yang muda ini juga perlu perhatian yang mendalam dari kalangan seniornya. Katakanlah dengan memsupport, membimbing mereka dengan menunjukkan sumber-sumber pendanaan untuk pembiayaan program-program dan kegiatan yang anak muda gagas. Peran serta ‘orang tua’ atau kalangan senior ini penting karena merekalah yang memiliki jaringan yang luas<span> </span>sebagai stakeholder maupun sumber pembiayaan. Ini harus dilakukan. Sebab, jika tidak, khawatirnya, seperti pengalaman yang lalu-lalu, anak muda akan mudah patah semangat, berhenti di tengah jalan karena kekayaan ide mereka kerap tak jalan jika tidak disupport dengan pendanaan yang cukup. Sepakat tidak sepakat demikianlah kenyataannya. Bahkan, beberapa aktivis muda harus merubah haluan menjadi pekerja professional lantaran tuntutan hidup yang tak dapat ditunda.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Kelima, jika support dan sumber pendanaan tak lagi jadi masalah, yang penting pada tahap berikutnya adalah bagaimana agar program atau kegiatan yang telah dilakukan itu dapat berlangsung secara berkelanjutan. Memulai adalah penting. Meneruskan dan mengembangkannya untuk menjadi baik dan mencakup area yang lebih luas lagi itu jauh lebih penting lagi. Hal ini agar agenda-agenda dialog interfaith betul-betul menjadi pekerjaan permanen seiring dengan latennya berbagai persoalan yang menghimpit bangsa ini. Salah satunya hanya dengan cara demikianlah problem toleransi dan perdamaian dapat kita eliminir dan kemudian kita wujudkan. [ ]</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=412&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/12/01/berharap-pada-yang-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/12/dsc_01091.jpg?w=63" medium="image">
			<media:title type="html">dsc_01091</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Idul Fitri Sebagai Hari Kemanusiaan Universal</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/26/idul-fitri-sebagai-hari-kemanusiaan-universal/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/26/idul-fitri-sebagai-hari-kemanusiaan-universal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 04:45:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[idul mubarak]]></category>
		<category><![CDATA[kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[universal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Idul Fitri Sebagai Hari Kemanusiaan Universal
 
Meski pada dasarnya manusia itu suci, tetapi sesungguhnya ia adalah makhluk yang lemah. Ia gemar membuat kesalahan atau erare humanum (kesalahan adalah manusiawi), sehingga ia mudah tergelincir ke dalam dosa yang menjadikan dirinya tidak suci lagi.
 
Salah satu kelemahan manusia yang paling pokok, menurut Cak Nur (Nurcholish Madjid) ialah pandangannya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=385&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:#0000ff;font-family:&quot;"><a href="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/idul-fitri111.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-387" title="idul-fitri111" src="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/idul-fitri111.jpg?w=300&#038;h=228" alt="" width="300" height="228" /></a>Idul Fitri Sebagai Hari Kemanusiaan Universal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#800000;font-family:&quot;">Meski pada dasarnya manusia itu suci, tetapi sesungguhnya ia adalah makhluk yang lemah. Ia gemar membuat kesalahan atau <em>erare humanum</em> (kesalahan adalah manusiawi), sehingga ia mudah tergelincir ke dalam dosa yang menjadikan dirinya tidak suci lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Salah satu kelemahan manusia yang paling pokok, menurut Cak Nur (Nurcholish Madjid) ialah pandangannya yang pendek dan tidak mampu melihat jauh ke depan, sehingga mudah tertarik kepada hal-hal yang secara sepintas menawarkan kesenangan. Padahal, dalam jangka panjang, kesenangan itu mermbawa malapetaka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span id="more-385"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Itu sebabnya dalam agama ada ritus penyucian melalui ibadah puasa yang akan terus mengembalikan kesucian manusia. Orang yang menjalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan dengan sendirinya akan dapat mengembalikan jiwanya kepada kesucian atau paradiso: yakni suatu kebahagiaan karena tanpa dosa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Idul Fitri akan memancarkan kebahagiaan ruhani manusia yang berhasi kembali kepada Tuhan, memenuhi perjanjian primordialnya. <em>”Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari anak-anak Adam keturunan mereka dari sulbinya dan menjadikan saksi atas diri mereka sendiri (dengan pertanyaan): ”Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab: ”Ya! Kami bersaksi!” (Demikianlah) supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat: ”Ketika itu kami lalai.”</em> (QS. 7:172). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dalam ajaran Islam, kata Cak Nur, fitrah – dan bersama dengan fitrah ini, kekhanifan (<em>hanifiyah</em>): kecenderungan kepada kebenaran yang lapang – adalah fokus kesadaran kebenaran dan merupakan titik yang menuntut kesediaan masing-masing pribadi manusia untuk menerima agama penyerahan diri dan ketaatan hidup moral. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Fitrah dan kehanifan ini adalah design ciptaan Allah yang tidak akan berubah, sehingga tetap akan ada selama-lamanya dalam diri manusia, yang malah akan menjadi sumber potensi kearifan abadi (<em>al-hikmah al-khalidah</em> atau <em>sophia perennis</em>), inti dari nilai kemanusiaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Karenanya, Nabi menegaskan bahwa sebaik-baiknya agama ialah <em>al-hanafiyatu al-samhah</em> – semangat mencari kebenaran dan kebaikan secara wajar, alami, lapang, dan manusiawi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dengan demikian, dapat dikatakan <span> </span>bahwa Idul Fitri adalah hari kemanusiaan universal yang suci. Manusia adalah suci, dan karenanya harus senantiasa berbuat suci kepada sesamanya. <em>”Orang yang sayang kepada sesamanya akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Maka sayangilah sesama di bumi. Dia yang di langit akan menyanyangimu,”</em> demikian sabda Nabi Saw.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Dalam potensi kemanusiaan universal inilah setiap Muslim wajib memanivestasikan keadaan ruhaninya – yang bersemanyam dalam hati nurani – dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan sosialnya. Untuk itu, manusia telah dibekali dengan akal pikiran, kemudian agama, dan berbagai kewajiban untuk terus menerus mencari dan memilih jalan hidup yang lurus, dan baik – yang harus dipertanggungjawabkannya baik di dunia kepada sesama manusia<span>  </span>maupun kepada Tuhan di akhirat kelak secara pribadi-pribadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Pandangan agama ini mengimplikasikan bahwa setiap individu manusia adalah berharga, seharga kemanusiaan sejagat. Barang siapa merugikan seorang pribadi, seperti membunuhnya tanpa alasan yang sah, maka ia bagaikan merugikan seluruh umat manusia. Begitupun sebaliknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">”&#8230;. Bahwa barang siapa membunuh orang yang tidak membunuh orang lain atau berbuat kerusakan di bumi, maka ia seolah membunuh semua orang; dan barang siapa yang menyelamatkan orang, maka ia seolah menyelamatkan nyawa semua orang.”</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> (QS. 5: 32).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Inilah implikasi dari kefitrahan manusia bahwa setiap pribadi manusia harus berbuat baik kepada sesamanya denganmemenuhi kewajiban diri pribadi terhadap pribadi yang lain, dalam suatu jalinan hubungan kemasyarakatan yang damai dan terbuka.<span>  </span>Ini juga arti <em>salam</em>, kedamaian di bumi yang menjadi tujuan dan tuntunan agama pada kehidupan sosial manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Kefitrahan juga menjadikan manusia memunyai sikap-sikap terbuka, lapang dada, penuh pengertian, dan kesediaan untuk senantiasa memberi maaf secara wajar dan pada tempatnya. Gabungan antara hak pribadi dan ekwajiban sosial itu mencerminkan ajaran Islam tentang ”jalan tengah” (<em>wasath</em>), wajar dan <em>fair </em>(<em>qisth</em>) serta adil (<em>’adl</em>), sikap-sikap yang secara berulang ditekankan dalam al-Qur’an dan Kitab Suci lainnya. [ ] Ahmad Nurcholish</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=385&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/26/idul-fitri-sebagai-hari-kemanusiaan-universal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/idul-fitri111.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">idul-fitri111</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Generasi Pluralis (bag. III)</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-iii/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 04:32:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[
Membangun Generasi Pluralis (bag. III)
 
 

Membangun Paradigma Keberagamaan Inklusif di Sekolah
            Dalam sub bahasan ini ada beberapa hal penting yang akan dikaji, seperti beberapa gambaran masalah yang menceritakan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan problematika keberagamaan di sekolah. Akan dijelaskan pula peran sekolah dan guru dalam membangun sikap dan pemahaman siswa terhadap model keberagamaan yang inklusif dan moderat. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=264&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 style="margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"><span style="font-family:Arial;"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;"><span style="color:#0000ff;"><a href="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/img_58011.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-266" src="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/img_58011.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Membangun Generasi Pluralis (bag. III)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p></span></span></h2>
<h2 style="margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#800000;">Membangun Paradigma Keberagamaan Inklusif di Sekolah</span></span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Dalam sub bahasan ini ada beberapa hal penting yang akan dikaji, seperti beberapa gambaran masalah yang menceritakan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan problematika keberagamaan di sekolah. Akan dijelaskan pula peran sekolah dan guru dalam membangun sikap dan pemahaman siswa terhadap model keberagamaan yang inklusif dan moderat. Kedua pokok bahasan ini penting untuk dipahami karena dapat memberi gambaran pada kita tentang beberapa persoalan yang berkaitan dengan agama yang terjadi di sekolah</span><a name="_ftnref1" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span id="more-264"></span> </span></p>
<h3 style="margin:0;"><span lang="SV"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Gambaran Masalah 1</span></span></em></span></h3>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 0.5in;"><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Beberapa bulan setelah kasus pemboman dua buah kafe di kota A, seorang guru, setelah membaca sebuah media, berbicara tentang kasus tersebut di depan murid-muridnya. Dia bercerita bahwa apa yang telah dilakukan oleh<span>  </span>Si Fulan dkk. adalah<span>  </span>bagian dari Jihad. Dia menambahkan bahwa Si Fulan cs, menurut agama, tidak berdosa telah melakukan tindakan tersebut karena para korban adalah orang kafir yang beragama B yang sedang bersenang-senang di sebuah kafe.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Penjelasan guru atau dosen yang seperti ini, tentunya, sangat menyesatkan bagi murid dan mahasiswa. Guru, dalam kisah ini, telah menanamkan sikap permusuhan terhadap pemeluk agama C, dan telah melegalkan tindakan kekerasan terhadap orang lain (umat beragama lain). Dalam hal ini, apakah guru seharusnya bersikap demikian? Bukankah seharusnya ia menjelaskan bahwa tindakan Si Fulan cs tidak bisa dibenarkan baik secara hukum maupun menurut agama? Bukankah akan lebih bijak bila ia<span>  </span>menjelaskan bahwa semua agama atau kepercayaan tidak pernah memerintahkan kepada pemeluknya untuk melakukan kekerasan terhadap siapa saja, termasuk kepada pemeluk agama lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<h3 style="margin:0;"><span lang="SV"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Gambaran Masalah 2</span></span></em></span></h3>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 0.5in;"><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">Seorang murid SMA merasa bingung ketika mengikuti pelajaran agama. Dia merasa, selama ini hanya mempelajari dan menghafal “teks-teks” keagamaan dan tata cara melakukan kegiatan ritual keagamaan di sekolah. Dia merasa aneh, kenapa pak guru agama tidak pernah membahas atau mendiskusikan hubungan agama dengan kenyataan kehidupan yang ada.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Pertanyaan-pertanyaan murid seperti ini, seperti diakui<span>  </span>Ainul Yaqin</span><a name="_ftnref2" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> sering kita temui, terutama sekali pada tingkat perguruan tinggi. Kajian agama yang lebih bersentuhan langsung pada persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat memang sangat dibutuhkan, seperti mempelajari bagaimana peran agama terhadap pengentasan kemiskinan, pembrantasan korupsi atau bagaimana hubungan agama dan negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Selama ini, kajian-kajian yang baru saja disebut hanya ada pada tingkat perguruan tinggi. Itupun hanya terbatas pada program-program studi tertentu seperti studi agama, sosiologi, antropologi dan politik. Untuk mengatasi masalah ini, usul Ainul, harus ada beberapa perubahan pada orientasi pendidikan agama kita, kurikulum dan materi pelajaran yang digunakan. Orientasi pendidikan yang tidak hanya mengacu pada pembentukan pemahaman keagamaan secara tesktual dan ritual, tapi juga mengacu pada pemahaman yang kontekstual dan sosial. Kurikulum yang tidak hanya bertujuan membangun kemampuan siswa terhadap mata pelajaran keagamaan, tapi juga bagaimana membangun sikap siswa yang agamis, religius dan peduli sosial. Serta materi pelajaran yang tidak hanya mengacu pada teks-teks keagamaan (buku, kitab) yang bersumber pada satu aliran pemikiran atau madzhab tertentu, tapi juga berasal dari penulis, zaman, aliran dan madzhab yang bervariasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<h2 style="margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"><span style="font-family:Arial;">Peran Guru dan Sekolah</span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Beranjak dari beberapa gambaran kejadian seperti di atas maka penting kiranya bagi seorang guru atau sekolah untuk menerapkan secara langsung beberapa aksi guna membangun pemahaman keberagamaan siswa yang inklusif dan moderat di sekolah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Guru merupakan (f)aktor penting dalam mengimplementasikan nilai-nilai keberagamaan yang inklusif-pluralis dan moderat di sekolah. Guru memiliki posisi penting dalam pendidikan multicultural karena dia merupakan salah satu target dari strategi pendidikan ini. Apabila seorang guru mempunyai paradigma pemahaman keberagamaan yang inklusif-pluralis<span>  </span>dan moderat, maka dia juga akan mampu untuk mengajarkan dan mengimplementasikan nilai-nilai keberagamaan tersebut terhadap siswa sekolah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Paling tidak ada dua peran guru untuk mendukung hal tersebut yang meliputi; <em>pertama</em>, seorang guru harus mampu untuk bersikap demokratis. Artinya dalam segala tingkah lakunya, baik sikap maupun perkataannya, tidak diskriminatif (bersikap tidak adil atau menyinggung) murid-murid yang menganut agama yang berbeda dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span><em>Kedua,</em> guru seharusnya mempunyai kepedulian terhadap kejadian-kejadian tertentu yang ada hubungannya dengan agama. Contohnya ketika terjadi pemboman terhadap sebuah kafe di Bali (2003), maka seorang guru yang berwawasan multicultural harus mampu menjelaskan keprihatinannya terhadap peristiwa tersebut. Kemudian seorang guru sebaiknya mampu menjelaskan bahwa kejadian tersebut seharusnya jangan sampai terjadi. Bukankah di dalam semua agama baik Islam, Kristen, Hindu Buddha, Yahudi, Khonghucu dan kepercayaanya lainnya mengajarkan bahwa segala macam bentuk kekerasan dalam memecahkan masalah adalah dilarang. Sebab kekerasan hanya akan memunculkan masalah-masalah baru</span><a name="_ftnref3" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Selain guru, peran sekolah juga sangat penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang pluralis dan toleran terhadap semua pemeluk agama. Untuk itu, sekolah seyogyanya memperhatikan langkah-langkah berikut; <em>pertama</em>, sekolah sebaiknya membuat dan menerapkan undang-undang atau peraturan local, yaitu undang-undang atau peraturan sekolah yang diterapkan secara khusus di satu sekolah tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Dalam undang-undang sekolah tersebut, tentunya, salah satu poin penting yang tercantum adalah adanya larangan terhadap bentuk diskriminasi agama di sekolah tersebut. Dengan diterapkannya UU ini diharapkan semua unsur yang ada seperti guru, kepala sekolah, pegawai administrasi, dan murid dapat belajar untuk selalu menghargai orang lain yang berbeda agama di lingkungan mereka.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span><em>Kedua</em>, untuk membangun rasa saling pengertian sejak dini antara siswa-siswi yang mempunyai keyakinan keagamaan yang berbeda maka sekolah harus berperan aktif menggalakkan dialog keagamaan atau dialog antariman yang tentunya tetap berada dalam bimbingan guru-guru dalam sekolah tersebut. Dialog antariman semacam ini merupakan salah satu upaya yang efektif agar siswa dapat membiasakan diri melakukan dialog dengan penganut agama yang berbeda. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Beberapa sekolah di Jakarta dan Bogor bahkan sudah mentradisikan dialog semacam ini. Diantaranya adalah sekolah Sentral-Sevilla</span><a name="_ftnref4" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> di Jakarta dan sekolah Madania</span><a name="_ftnref5" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> di Bogor. Tidak hanya melalui dialog, siswa-siswa di sekolah-sekolah itu juga sudah terbiasa saling membantu untuk merayakan hari-hari besar keagamaan secara bersama-sama. Misalnya ketika Maulid Nabi atau <em>Isra’ Mi’raj</em> tiba maka siswa-siswa yang non-Muslim pun turut membantu teman-teman mereka yang Muslim untuk mengadakan perayaan/peringatan hari besar itu. Bahkan mereka yang non-Muslim pun turut berpartisipasi dalam mengisi acara, seperti menyanyi, menari atau membaca puisi. Sebaliknya, jika Natal datang siswa-siswi non-Kristen pun turut membantu rekan-rekan mereka yang Nsrani untuk mengadakan perayaan Natal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span><em>Ketiga</em>, hal lain yang penting dalam penerapan pendidikan multicultural yaitu kurikulum dan biuku-buku pelajaran yang dipakai, dan diterapkan di sekolah. Kurikulum pendidikan yang multicultural merupakan persyaratan utama yang tidak bias ditolak dalam menerapkan strategi pendidikan ini. Pada intinya, kurikulum pendidikan multicultural adalah kurikulum yang memuat nilai-nilai pluralisme dan toleransi keberagamaan. Begitu pula buku-buku, terutama buku-buku agama yang dipakai di sekolah, sebaiknya adalah buku-buku yang dapat membangun wacana peserta didik tentang pemahaman keberagamaan yang inklusif-pluralis dan moderat</span><a name="_ftnref6" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. Sayangnya, buku-buku seperti itu di pasaran masih merupakan barang langka yang sulit ditemukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Di tengah kelangkaan dan seabrek persoalan yang menghimpit sekolah-sekolah kita, penulis merasa harus memberikan apresiasi yang tinggi dan berharap banyak bahwa Sekolah Kuntum Cemerlang mampu tampil sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai pluralitas, toleransi dan perdamaian untuk “Bersama Membangun Masa Depan Anak” bangsa. </span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Wallahu a’lam bi al-Shawaf</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. [ ] Ahmad Nurcholish</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<div>
<span style="font-size:small;"><br />
<hr size="1" /></span></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Lihat Muhammad Ali, “<em>Paradigm Shift; Pemahaman Agama”</em>, <em>Kompas</em> 7 Oktober 2003. dikutip kembali oleh M. Ainul Yaqin, <em>Pendidikan Multikultural</em> (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), h.58.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn2" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> M. Ainul Yaqien, <em>Pendidikan Multikultura,</em> (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), h. 58-59.</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn3" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid</em>., h.62.</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn4" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV"> Sekolah ini didirikan oleh Gede Natih (tokoh Hindu), Sudhamek AWS (pengusaha, tokoh Buddha) dan alm. </span>Nurcholish Madjid (cendikiawan Muslim).</span></span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn5" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> Sekolah berbasis Islam ini didirikan antara lain oleh alm. Nurcholish Madjid. <span lang="SV">Meski sekolah Islam, sekolah ini juga menerima siswa-siswi non-Muslim. Bahkan pihak sekolah juga menyediakan guru-guru agama non Islam seperti Kristen, Hindu dan Buddha meski murid yang beragama non Islam itu hanya satu atau dua orang saja.</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn6" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> M. Ainul Yaqien, <em>Ibid</em>., h. 63.</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=264&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/img_58011.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Generasi Pluralis (bag. II)</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-ii/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 04:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kerukunan]]></category>
		<category><![CDATA[perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Membangun Generasi Pluralis (bag. II)
 
Fiqih Toleransi
            Sebagai konsekuensi logis dari pemaparan di atas yang juga disertai landasan-landasan telogisnya (melalui kajian teks, ayat), maka yang harus diimplementasikan adalah hadirnya fiqih (yuresprudensi hukum Islam) toleran yakni aturan hukum agama yang pluralis. Hal ini penting dilakukan dalam rangka menciptakan tatanan kehidupan agama yang damai dan sehat.
            Sebagaimana kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=258&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;color:#0000ff;"><strong><span style="font-family:Arial;"><a href="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/img_5612.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-259" src="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/img_5612.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Membangun Generasi Pluralis (bag. II)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#993300;"><strong><em><span style="font-family:Arial;">Fiqih</span></em></strong><strong><span style="font-family:Arial;"> Toleransi</span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span><span style="color:#ff6600;">Sebagai konsekuensi logis dari pemaparan di atas yang juga disertai landasan-landasan telogisnya (melalui kajian teks, ayat), maka yang harus diimplementasikan adalah hadirnya <em>fiqih</em> (yuresprudensi hukum Islam) toleran yakni aturan hukum agama yang pluralis. Hal ini penting dilakukan dalam rangka menciptakan tatanan kehidupan agama yang damai dan sehat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span style="color:#ff6600;"><span>            </span>Sebagaimana kita ketahui hubungan antaragama atau antara kelompok-kelompok yang berbeda agama tidak selalu harmonis dan bersahabat. Bahkan, kerap diwarnai dengan ketegangan, konflik, kebencian, permusuhan, kekerasan, bahkan pembunuhan. Bentuk-bentuk hubungan antaragama, baik harmoni maupun konflik, meskipun lebih sering ditimbulkan oleh factor social-politik, tidak pernah terlepas dari factor keagamaan. Karena itu, dalam membina dan memelihara hubungan harmonis antara komunitas-komunitas yang berbeda agama, factor keagamaan tidak bisa diabaikan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff6600;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span id="more-258"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Oleh karena itu, barangkali akan menemukan relevansinya jika pada bagian ini kita akan membicarakan masalah-masalah keagamaan dalam hubungan antaragama dalam bidang ritual atau ibadah. Juga masalah-masalah keagamaan dalam hubungan antaragama dalam bidang muamalat. Masalah-masalah itu antara lain adalah: mengucapkan salam kepada non-Muslim, mengucapkan Selamat Natal dan selamat hari raya agama-agama lain, menghadiri perayaan hari-hari besar agama-agama lain, dan masalah penggunaan jilbab yang tak pernah hilang dari perbincangan publik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<h3 style="margin:0;"><strong><span lang="SV"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Mengucapkan Salam kepada Non-Muslim</span></span></em></span></strong></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Pada umumnya para ulama berpendapat bahwa hokum mengucapkan salam kepada orang non-Muslim adalah haram, terlarang. Larangan ini didasarkan pada hadits-hadits Nabi Muhammad saw. Antara lain adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Jangan kamu memulai (mengucapkan) salam kepada orang-orang Yahudi dan Nsrani. Jika kamu menjumpai salah seorang dari mereka di jalan, doronglah dia ke pinggir.” (HR. Muslim melalui Abu Hurairah).</span><a name="_ftnref1" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">[1]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Hadits ini tidak hanya melarang memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, tetapi juga menyuruh orang-orang Muslim untuk bersikap kasar terhadap mereka, yaitu dengan mendorong siapapun di antara mereka ke pinggir jalan. Hadits ini menampilkan Islam dengan wajah garang dan kasar. Paling tidak ada 9 hadits lain yang berbicara soal salam kepada non-Muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Hadits di atas oleh banyak ulama Islam sebenarnya diragukan ke-<em>shahih-</em>annya, karena, <em>pertama</em>, Abu Hurairah terlalu sering meriwayatkan apa yang sebenarnya tidak pasti diucapkan oleh Rasulullah Saw. <em>Kedua</em>, diduga keras ia juga seorang yang pelupa dan ia sendiri mengakui sifat ini</span><a name="_ftnref2" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. <em>Ketiga</em>, terlalu banyak hadits yang diriwayatkannya dalam waktu singkat, yakni 5300 hadits dalam waktu tiga tahun</span><a name="_ftnref3" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. <em>Keempat</em>, ia juga seorang pemalas. Ia pernah menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Umar ibn al-Khattab</span><a name="_ftnref4" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. <em>Kelima</em>, banyak hadits-hadits yang diriwayatkannya bertentangan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang terpercaya, termasuk juga Aisyah</span><a name="_ftnref5" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Hadits di atas bertentangan dengan watak dasar Islam yang menekankan kedamaian, keramahan, dan kelembutan. Hadits itu juga bertentangan dengan hadits lain yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. (mamulai) mengucapkan salam kepada Negus (Najasyi), Raja Etiopia, melalui suratnya.</span><a name="_ftnref6" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[6]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim melalui Abdullah ibn Amru dapat dijadikan rujukan untuk mengetahui apakah mengucapkan salam kepada orang non-Muslim boleh atau dilarang. Hadits ini menceritakan bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang Islam yang mana yang terbaik. Nabi menjawab: “Memberikan makanan dan membaca salam kepada siapa saja yang engkau kenal dan siapa sahja yang tidak engkau kenal.”</span><a name="_ftnref7" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[7]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Ketika menjelaskan makna umum hadits ini, Musa Syahin, seorang guru tafsir dan hadits di Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar, Kairo, mengatakan bahwa di antara cabang iman yang terpenting dan perangai yang paling menonjol adalah memberikan makanan dan menyebarkan salam. Dengan dua perangai ini persahabatan dan persaudaraan akan terwujud, umat Islam menjadi seperti tubuh yang satu yang saling mengokohkan. <span>           </span>Dengan dua perangai ini, kepercayaan dan keamanan akan sempurna, cinta dan harmoni akan terwujud, kebahagiaan dan kedamaian akan menjadi agung, dan fenomena-fenomena Islam dengan bentuk-bentuk ini semua akan menjadi tampak nyata</span><a name="_ftnref8" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[8]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. Hadits ini menyatakan dengan tegas bahwa Islam<span>  </span>adalah agama solidaritas dan kedamaian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Mengucapkan salam adalah perbuatan menanam kasih-sayang dan cinta dalam kalbu. Kesedihan, perlawanan dan penolakan yang mungkin ada dalam kalbu orang-orang yang dicintai akan hilang lenyap dengan ucapan selamat. Buruk sangka dan saling curiga yang mungkin ada dalam kalbu musuh akan berbalik menjadi kepercayaan dengan ucapan selamat. Makna zahir ungkapan “siapa yang engkau kenal dan siapa yang tidak engkau kenal” (<em>man ‘arafta wa man lam ta’rif</em>) dalam hadits ini menujukkan keumuman pada seluruih manusia (<em>kull al-nas</em>), baik yang beriman maupun yang kafir.</span><a name="_ftnref9" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[9]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<h3 style="margin:0;"><strong><span lang="SV"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Mengucapkan “Selamat Natal”</span></span></em></span></strong></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Seperti juga mengucapkan salam kepada non-Muslim, mengucapkan “Selamat Natal” kepada mereka yang Nasrani juga diharamkan atau dilarang oleh ‘ajaran’ Islam. Bahkan MUI pun memfatwakan hal itu. Di antara alasan larangan itu adalah bahwa mengucapkan “Selamat Natal” berarti membenarkan ajaran Kristen. Alasan lain: <em>bid’ah</em> dan menyerupai orang kafir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>M. Quraish Shihab mengatakan bahwa ada ayat al-Qur’an yang mengabadikan ucapan Selamat Natal yang pernah diucapkan oleh Nabi Isa, tidak terlarang membacanya, dan tidak keliru pula mengucapkan “selamat” kepada siapa saja, dengan catatan memahami dan menghayati maksudnya menurut al-Qur’an, demi kemurnian aqidah.</span><a name="_ftnref10" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[10]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> Selamat Natal yang diucapkan Nabi Isa dan diabadikan oleh al-Qur’an: <em>“Salam sejahtera untukku pada hari kelahiranku, wafatku dan kebangkitanku kelak”</em> (QS. Maryam/19:33).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Yang lebih utama adalah tujuan mengucapkan “Selamat Natal.” Bagi orang-orang Muslim, pada umumnya, tujuannya adalah untuk pergaulan, persaudaraan, dan persahabatan. Ketiga hal itu dalam Islam adalah kemaslahatan. Dengan dengan tujuan itu, dan tentu saja tanpa mengorbankan aqidah, mengucapkan “Selamat Natal” tentu saja dibolehkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<h3 style="margin:0;"><strong><span lang="SV"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Menghadiri Perayaan Hari-hari Besar Agama Lain </span></span></em></span></strong></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Apa hukumnya seorang Muslim menghadiri perayaan hari-hari besar agama lain, seperti perayaan Natal misalnya? Untuk menjawab itu marilah kita lihat bagaimana tokoh-tokoh Islam baik yang ada di dalam negeri maupun mancanegara mengikuti perayaan hari-hari besar agama lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Pada Jumat, 24 Desember 1999 Presiden Palestina Yasser Arafat, bersama istrinya Suha yang beragama Nasrani, menghadiri misa tengah malam di Gereja Saint Catherine di Bethlehem, dan menghadiri Perayaan Malam Natal di Gereja Kelahiran Kristus di kota yang sama, setelah menghadiri dan mengikuti<span>  </span>acara tarawih di masjid dekat gereja itu. Di gereja itu, Arafat berdo’a untuk perdamaian</span><a name="_ftnref11" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[11]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">. Dan kebiasaan itu dilakukannya setiap tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Pada malam yang sama di Banja Luka, Bosnia-Herzegovina, orang-orang Serbia dan orang-orang Muslim bergabung dengan 400-an orang Kroasia Katholik merayakan Misa Malam Natal. Suasana itu adalah cerminan kerukunan antara komunitas-komunitas dari agama yang berbeda di kota yang selama beberapa tahun sebelumnya dilanda konflik berdarah yang penuh dengan kekerasan</span><a name="_ftnref12" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[12]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Ketua MPR RI (saat itu) Amien Rais menghadiri perayaan Natal di Gereja Sentrum Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Selasa 19 Desember 2000. mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menemukan sebuah pengalaman menarik dan langka ketika menyaksikan kelompok Qasidah Kampung Jawa Tondano menyanyikan lagu <em>Torang Samua Basaudara</em> (Kita Semua Bersaudara) dalam perayaan Natal itu yang juga dihadiri para ulama Muslim. Amien tak kuasa menahan haru mhal itu. Dengan nada suara bergetar ketika menyampaikan pidatonya, Amien berujar: “Saya betul-betul terharu menyaksikan praktik kehidupan rukun dan damai masyarakat di tempat ini. Sungguh, ini menjadi pengalaman amat berharga bagi kita semua.</span><a name="_ftnref13" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[13]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Begitu juga dengan Perayaan Natal Nasional tahun 2002 di Balai Sidang Senayan, Jakarta, pada Jumat, 27 Desember 2002 dihadiri oleh Presiden Megawati, Wapres Hamzah Haz, Ketua MPR Amien Rais, Ketua DPR Akbar Tanjung, para menteri, termasuk Menag Said Agil Husin al-Munawar, para duta besar negara-negara sahabat.</span><a name="_ftnref14" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[14]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Perayaan Imlek yang diadakan oleh </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Vihara Mahavira Graha Pusat pada 31 Januari 2006 juga dihadiri tokoh-tokoh agama diluar Buddha, seperti Abdurrahman Wahid (mantan Presiden RI), Chandra Setiawan (pengurus Matakin, anggota Komnas HAM), Kwik Kian Gie, Alvin Lee (anggota DPR), dan Romo Benny Susetyo (Katholik).</span><a name="_ftnref15" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[15]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> Bahkan dalam Perayaan Imlek Nasional yang diadakan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) di JCC pada 4 Februari 2006, dan Sabtu, 24 Februari 2007, selain Presiden SBY, para menteri dan pejabat negara, juga hadir tokoh-tokoh dari berbagai agama. Gus Dur sendiri tak pernah absen menghadiri perayaan Imlek dari tahun ke tahun</span><a name="_ftnref16" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[16]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Pada medium tahun ini, persisnya 1 Juni 2007 saat Majelis Budayana Indonesia (MBI) pimpinan Sudhamek AWS. menghelat perayaan Waisyak 2551 BE di Candi Muaro Jambi juga dihadiri tokoh-tokoh agama dan masyarakat dari berbagai agama. Hadir di antaranya Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Assiddiqie, Ketua Umum ICRP Musdah Mulia dan sejumlah pemuka agama dari agama-agama lain</span><a name="_ftnref17" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[17]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<h2 style="margin:0;"><em><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Jilbab: antara Doktrin Agama dan Tradisi</span></span></span></em></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Salah satu jenis pakaian perempuan yang sering diperdebatkan antara wajib dikenakan atau tidak adalah <em>khimar</em> (kerudung) dan jilbab. Biasanya, baik yang mewajibkan maupun yang tidak sama-sama berpijak pada ayat-ayat berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 0.5in;"><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: “Hendaklah mereka memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya (QS. An-Nur/24:31).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Ayat berikutnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 0.5in;"><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">“Hai<span>  </span>Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Ahzab: 59).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Mengomentari ayat pertama (an-Nur/24:31) di atas, Muhammad Salman Ghanim, seorang pemikir Islam asal Mesir, mengatakan bahwa term <em>juyub</em> dalam ayat ini adalah daerah sekitar wilayah dada dan bagian tengah perempuan. Di sini, menurutnya, tidak disebutkan masalah tutup kepala (rambut), sehingga seolah-olah Allah ingin memfirmankan bahwa menutup kepala dengan <em>khimar</em> (kerudung) tidak penting, tetapi yang terpending adalah menutup sekwilda (sekitar wilayah dada)</span><a name="_ftnref18" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[18]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Kaum agamawan lebih memandang ayat di atas hanya dari segi perempuan-sentris, tanpa melihat kewajiban serupa pada laki-laki. Padahal, mula-mula Allah lebih mengisyaratkan perintah untuk memelihara kemaluan dan menundukkan pandangan lebih ditekankan kepada kaum laki-laki. Lihat saja ayat sebelumnya, surat an-Nur/24 ayat 30:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 0.5in;"><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">“Katakanlah kepada laki-laki mukminin: “Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya”.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Dalam buku <em>Islam ka Badil</em> (Islam sebagai Alternatif) Mourad Hoffman menyatakan, “Kita melihat bahwa bidang yang dimaksudkan dalam diksi <em>illa ma dzahara minha</em> adalah membolehkan menata pakaian perempuan menurut perubahan zaman dalam peran fungsional perempuan, karena perubahan tersebut sudah menjadi keharusan untuk mengikuti perkembangan komunitas manusia secara etis dan social.”</span><a name="_ftnref19" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[19]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Hoffman meneruskan, “Signifikansi (<em>maghza</em>) ayat 31 dari surat an-Nur sebenarnya bias terealisasikan tanpa harus menutup rambut perempuan. Sebab rambut perempuan bukanlah sumber rangsangan nafsu seksual kamum laki-laki, sebagaimana kondisi perempuan di Eropa Utara dan Amerika Utara secara umum.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Begitu juga Salman Ghanim, menurutnya, rambut perempuan lebih kecil rangsangan seksualnya daripada wajah, sehingga boleh saja dibuka. Hanya saja Islam menuntut kaum perempuan untuk bersikap sopan dalam berpakaian. Maka, kata Ghanim, tidak apa-apa memakai khimar (kerudung), asal tidak menganggap dan menyakininya sebagai bagian dari doktrin agama, atau menganggap orang yang tidak menutup rambut lebih kecil keimanannya, bahkan kafir</span><a name="_ftnref20" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[20]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Sedangkan dalam surat al-Ahzab/33:59 yang memerintahkan perempuan untuk memanjangkan jilbabnya, kemudian dijadikan justifikasi sebagai dalil pakaian Muslimah, <em>asbab an-nuzul</em> (sebab-sebab turunnya) ayat ini adalah bahwa kaum perempuan masa Nabi sering keluar ke padang pasir untuk buang air besar. Sehingga banyak kaum laki-laki yang menyakini mereka sebagai perempuan tuna susila atau budak perempuan, karena tidak adanya tanda-tanda khusus bagi perempuan merdeka dalam hal pakaian. Maka mereka pun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Dari sini, turunlah ayat tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Muhammad Said Asymawi mnengomentari ayat di atas demikian:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Jika para ahli fiqih (<em>fuqaha</em>) menetapkan kaidah bahwa hukum terkait dengan <em>illah </em>secara wujud dan sebab. Maka hilangnya illah dalam hokum memanjangkan jilbab dalam ayat di atas, dengan maraknya WC/toilet di rumah-rumah serta tidak adanya diskriminasi perempuan karena urusan pakaian, menyebabkan tidak berlakunya lagi hukum tersebut. Jilbab merupakan hokum temporal yang terkait dengan kondisi tertentu (masa Nabi). Jika kondisi tersebut sudah hilang dan berubah, maka kewajiban memanjangkan jilbab ini juga sudah tidak berlaku.”</span><a name="_ftnref21" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">[21]</span></span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<h1 style="margin:0;"><span style="font-size:12pt;" lang="SV"><span style="font-family:Arial;">Pendidikan Pluralis-Multikultural</span></span></h1>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Di era multikulturalisme dan pluralisme, pendidikan agama sedang mendapat tentangan karena ketidakmampuannya dalam membebaskan peserta didik keluar dari eksklusifitas beragama. Dalam pendidikan agama Islam misalnya, wacana kafir-iman, muslim-nonmuslim, sorga-neraka seringkali menjadi bahan pelajaran di kelas yang selalu diindoktrinasi. Pelajaran teologi diajarkan sekadar untuk memperkuat keimanan dan pancapaiannya menuju sorga tanpa dibarengi dengan kesadaran berdialog dengan agama-agama lain.</span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Di sekolah-sekolah Islam dari levelnya yang paling rendah (Madrasah Ibtidaiyah) sampai perguruan tinggi, fenomena ini tumbuh bak jamur di musim hujan. Paradigma pendidikan Islam yang eksklusif-doktrinal ini telah menciptakan kesadaran umatnya untuk memandang agama lain secara berbeda, bahkan bermusuhan. Kondisi inilah yang menjadikan pendidikan Islam sangat ekseklusif dan tidak toleran. Padahal, di era pluralisme dewasa ini, pendidikan Islam dan juga pendidikan agama-agama</span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>lain mesti melakukan reorientasi filisofis-paradigmatik tentang bagaimana membentuk kesadaran peserta didik berwajah inklusif-pluralis dan toleran. Inilah tantangan serius dalam mengembangkan pendidikan agama di tanah air.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Untuk menuju sebuah pendidikan agama yang menghargai pluralisme, sebenarnya selain aspek kurikulum (khususnya <em>aqidah-akhlak</em> dalam Islam) yang harus dirubah muatan-muatannya, juga aspek pendekatan dalam pengajarannya. Pola-pola lama dalam pendekatan atau pengajaran agama harus segera dirubah dengan model baru yang lebih mengalir dan komunikatif. Aspek perbedaan harus menjadi titik tekan dari setiap pendidik. Pendidik harus sadar betul bahwa masing-masing peserta didik merupakan “manusia yang unik” (<em>human unique</em>), karena itu tidak boleh ada penyeragaman-penyeragaman. Penyeragaman-penyeragaman bukan saja akan mamatikan kreativitas, namun juga akan membunuh daya cipta dan kemampuan yang telah ada sebelumnya. Karena itu, pendidikan harus dipahami untuk melakukan pembaruan (<em>inovation</em>) yang mengarah pada perbaikan-perbaikan</span><a name="_ftnref22" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[22]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Oleh karena itu, pendidikan tidak bisa menjadi sesuatu yang sudah <em>fixed</em>, tetapi senantiasa berubah-ubah sesuai perkembangan yang terjadi. Dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi, maka kurikulum pendidikan agama harus dipahami sebagai materi yang harus senantiasa memperhatikan perubahan tersebut, karena jika tidak akan menjadi “kerangkeng” atau penjara yang diperkuat di dalam kelas dengan kursi-kursi tempat duduk yang hanya pas untuk satu orang, jam pelajaran yang ketat, guru yang bekerja seperti “sipir penjara” dan beberapa “penjara” lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Agar pendidikan agama tidak menjadi “penjara”, maka harus diupayakan agar tidak membosankan serta mengenai tujuan atau sasaran; yakni memberikan ruang pada anak-anak didik untuk menyampaikan ekspresi yang berbeda-beda dengan keunikan yang dimilikinya. Salah satu cara dengan memberikan kebebasan terhadap siswa adalah melalui berbagai pendekatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Beberapa kemungkinan pendekatan yang bisa dikembangkan dalam rangka mengajarkan agama kepada peserta didik sehingga tidak menjadikan siswa sebagai manusia mekanis dan berpikir satu arah adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span><em>Pertama</em>, pendekatan histories. Pendekatan ini mengandaikan bahwa materi pendidikan agama diajarkan kepada siswa dengan menengok kembali ke belakang; maksudnya adalah agar pendidik dan peserta didik mempunyai kerangka yang komplet sampai ke belakang untuk kemudian merefleksikan untuk masa sekarang dan mendatang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span><em>Kedua</em>, pendekatan sosiologis. Pendekatan ini mengandaikan terjadinya proses “kontekstualisasi” atas apa yang pernah terjadi di masa sebelumnya, atau masa lampau. Kontekstualisasi ini dalam kerangka berpikir Islam bisa diindentikkan dengan <em>ijtihad</em> (inovasi/pembaruan) atas apa yang dulu pernah dipahami. Dengan pendekatan sosiologis ini akan membawa materi pelajaran agama pada umumnya menjadi lebih aktual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span><em>Ketiga</em>, pendekatan cultural. Ini merupakan pendekatan yang menekankan pada aspek otentisitas dan tradisi yang berkembang. Dengan pendekatan ini, siswa akan memahami apa yang sebenarnya menjadi tradisi dan mana yang otentik, orisinil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span><em>Keempat</em>, pendekatan psikologis. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang memperhatikan situasi psikologi orang perorang (siswa demi siswa) secara tersendiri dan mandiri. Artinya, masing-masing siswa dilihat sebagai manusia mandiri dan <em>unique </em>dengan karakter dan kemampuan yang dimilikinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Dengan pendekatan psikologis akan memungkinkan siswa menjadi manusia “pembelajar” yang dengan segala informasi akan dapat secara progresif mengorganisasikan dan memperkaya apa-apa yang sudah diketahui, bukan malah mematikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Kelima, pendekatan estetik. Pendekatan ini menjadikan siswa memiliki sifat-sifat yang santun, damai, ramah dan mencintai keindahan. Mengapa? Karena dalam persepektif ini pelajaran agama tidak didekati secara doctrinal yang cenderung menekankan adanya “otoritas-otoritas” kebenaran agama tertentu, tetapi lebih apresiatif terhadap gejala-gejala yang terjadi di tengah masyarakat yang dilihat sebagai bagian dari dinamika hidup yang bernilai seni, estetik. Pendekatan inilah yang dulu digunakan oleh Wali Songo dalam mendakwahkan Islam di Tanah Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span><em>Keenam</em>, pendekatan berperspektif jender. Pendekatan ini sebenarnya merupakan pendekatan dalam pengajaran agama yang tidak membedakan jenis kelamin karena memang soal jenis kelamin bukan penghalang bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dalam belajar. Di hadapan Tuhan juga jelas yang akan dinilai bukan karena jenis kelaminnya, tetapi nilai ketaqwaannya (kesalehannya)</span><a name="_ftnref23" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[23]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Shahih Muslim: Kitab al-Salam, Bab al-Nahy ‘an Ibtida’ Ahl al-Kitab</em>, No. 2167.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn2" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Shahih Bukari,</em> Vol. h. 34.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn3" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Ibn Hajar al-‘Asqalani, <em>Al-Isabah fi Tamyiz al-Shabahah</em> (Kairo: Maktabat al-Dirasah al-Islamiyah Dar al-Nahdhah, t.t.), vol.7,h.432.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn4" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Al-‘Asqalani, <em>Al-Isabah</em>, vol.7,h.517.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn5" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Fatima Mernisi, <em>Women and Islam: A Historical and Theological Enquiry</em> (Oxford: Basil Blacwell, 1991).</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn6" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Sirat al-Halabi</em>, vol.3,h.279; <em>Thabaqat al-Kubra</em>, vol.1,h.259, sebagaimana dikutip oleh Ja’far Subhani, <em>Al-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW</em>, terj. Muhammad Hasyim &amp; Meth Kierana (Jakarta: Lentera, 1996), h.497.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn7" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Musa Syahin Lasyin, <em>Fath al-Mu’im: Syarh Shahih Mu</em>slim, Bagian Pertama (Kairo: Maktabat al-Jami’ah al-Azhariyyah, 1389/1970), h.233.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn8" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid</em>, h.234.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn9" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid</em>, h. 237.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn10" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Nurcholish Madjid, dkk. <em>Fiqih Lintas Agama</em>, (Jakarta: Paramadina, 2004), h.81-82.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn11" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Kompas</em>, 26 Desember 1999.</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn12" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Kompas, 26 Desember 1999.</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn13" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Kompas</em>, 23 Desember 2000.</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn14" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Kompas</em>, 28 Desember 2002.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn15" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>ICRP online</em>, penulis hadir juga dalam acara ini.</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn16" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid</em>., penulis juga selalu hadir dalam perayaan itu.</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn17" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> <em>MaJEMUK</em>, Juli-Agustus 2007. Penulis hadir juga di acara itu.</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn18" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> Muhammad Salman Ghanin, <em>Min Haqa’iq al-Qur’an</em> [terj.], (Yogyakarta: LKiS, 2004), h.99</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn19" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> Mourad Hoffman, <em>Islam ka Badil</em>, h.219.</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn20" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Muhammad Salman Ghanim, <em>Ibid</em>., h.101.</span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn21" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Muhammad Said Asymawi, <em>Ma’alim al-Islam</em>, (1989), h.125.</span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn22" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></span></span></span></a><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> Lihat Zuly Qodir, <em>Humanisasi Pendidikan Islam</em> dalam Jurnal Tashwirul Afkar (Jakarta: Lakpesdam NU, 2001), Edisi No. 11, h. 36-37.</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn23" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[23]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid</em>., h.38-42.</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/258/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=258&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/img_5612.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Generasi Pluralis (bag. I)</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-i/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 03:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[perdamaian]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[usia dini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Menyemai Nilai-nilai Toleransi dari Ruang Sekolah[1]
  
 Pengantar
            Topik di atas sengaja kita angkat karena, menurut hemat penulis, akan menemukan relevansinya di tengah masih massifnya ‘ketegangan-ketegangan’ antara umat Islam dan non Islam, khususnya Kristen dan Katholik. Begitu juga dengan kian maraknya Perda-Perda bernuansa agama, juga makin getolnya orang/kelompok dari umat Islam yang tengah memperjuangkan penerapan syari’at Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=249&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span style="color:#0000ff;"><a href="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/belajar-toleransi.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-250" src="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/belajar-toleransi.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Menyemai Nilai-nilai Toleransi dari Ruang Sekolah</span></span><a name="_ftnref1" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;"> </span></span><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;"> </span></span><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span style="color:#800000;">Pengantar</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Topik di atas sengaja kita angkat karena, menurut hemat penulis, akan menemukan relevansinya di tengah masih massifnya ‘ketegangan-ketegangan’ antara umat Islam dan non Islam, khususnya Kristen dan Katholik. Begitu juga dengan kian maraknya Perda-Perda bernuansa agama, juga makin getolnya orang/kelompok dari umat Islam yang tengah memperjuangkan penerapan syari’at Islam menambah kerumitan tersendiri bagi pegiat kerukunan dan toleransi antar umat beragama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span id="more-249"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Kerumitan tersebut kian bertambah berat setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan 11 fatwa pada Kamis, 28 Juli 2005 yang antara lain mengharamkan Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme. Tidak hanya itu, MUI juga melengkapi fatwa-fatwa sebelumnya yang antara lain: mengharamkan umat Islam mengucapkan ‘Selamat natal’ kepada saudara mereka yang Nasrani dengan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span> </span>mengharamkan doa bersama antaragama, mengharamkan kawin beda agama dan<span>  </span>warisan beda agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Sontak, pasca dikeluarkanya fatwa tersebut langsung memantik pro dan kontra tidak hanya di kalangan umat islam, tetapi juga memunculkan keprihatinan pada umat agama lain. Salah seorang intelektual Islam, Dawam Raharjo</span><a name="_ftnref2" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">, menilai bahwa diantara fatwa yang cukup merisaukan adalah dilarangnya doa bersama, khususnya doa yang dipimpin oleh orang nonmuslim. Menurutnya, gejala itu sebenarnya sudah sangat lumrah: seorang pastor atau pendeta mengucapkan doa, padahal doa bersama yang diucapkan dalam bahasa Indonesia atau Jawa itu isinya sama saja dengan doa orang Islam, misalnya meminta keselamatan atau memohon agar para pemimpin bisa menghentikan pertengkaran di antara mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Dalam pandangan Dawam, doa bersama itu bersifat universal, bisa diucapkan dan diamini oleh semua orang dari berbagai agama. Mengapa doa bersama itu, yang maksudnya jelas baik dan merupakan kebiasaan yang baik pula, yaitu memohon kepada Tuhan, Tuhan seluruh umat manusia, diharamkan oleh MUI? “Bukankah ini adalah pemberangusan terhadap kebebasan untuk menjalankan ibadah menurut keyakinan masing-masing?” tulisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Fatwa MUI tersebut juga menolak asas pluralisme beragama, tapi bisa menerima pluralitas karena merupakan realitas. MUI agaknya membedakan pluralitas dan pluralisme, yang memang berbeda. Yang satu pemikiran dan yang lain adalah realitas yang tak bisa ditolak. Namun, keduanya berkaitan satu sama lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Asas pluralisme dianut karena berdasarkan realitas, yaitu realitas masyarakat yang majemuk. Dalam masyarakat yang majemuk itu, otoritas, yaitu negara atau MUI, tidak berhak menyatakan bahwa agama yang satu benar dan agama yang lain salah atau &#8220;sesat dan menyesatkan&#8221; seperti yang dituduhkan kepada Ahmadiyah. Artinya, semua agama harus dianggap benar, yaitu benar menurut keyakinan pemeluk agama masing-masing. Sebab, prinsip ini merupakan landasan bagi keadilan, persamaan hak, dan kerukunan antarumat beragama. Tanpa pandangan pluralis, kerukunan umat beragama mustahil dapat diwujudkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Demikian juga, tanpa pluralisme, di mana keyakinan masyarakat didominasi oleh keyakinan hegemonik seperti keyakinan para ulama MUI, kebebasan beragama akan terberangus dari bumi Indonesia. Padahal yang mendasari Pancasila itu adalah pluralisme yang tersimpul dalam istilah &#8220;bhinneka tunggal ika&#8221;. Pluralisme, lewat Pancasila, adalah infrastruktur budaya dari persatuan Indonesia, demokrasi kerakyatan, dan keadilan sosial yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<h4 style="margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Islam dan Pluralisme</span></span></span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Berbicara tentang nilai-nilai pluralisme dalam Islam, mengingatkan kita pada Prof. Fazlurrahman. Dalam bukunya <em>Intepretation in the Qur’an</em>, beliau memaparkan bahwa ada beberapa ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme. Nilai-nilai tersebut yang apabila kita hayati maka diharapkan hubungan antar sesama kita, manusia dengan segala macam keaneka ragaman ideology, <em>background</em> sosial, etnik, dan sebagainya dapat terjembatani melalui nilai-nilai pluralisme Islam ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Dalam al-Qur’an, Allah menjelaskan akan pluralitas itu melalui surat al-Hujarat (49):13 yang artinya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:0 0.5in;"><span lang="SV"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Arial;">“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujarat/49:13)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Swt telah menciptakan makhluknya, laki-laki dan perempuan, dan menciptakan manusia berbangsa-bangsa, untuk menjalin hubungan yang baik.<span>  </span>Kata <em>ta’arafu</em> dalam bahasa Arab merupakan kalimat aktif dan bukan pasif, sehingga perintah untuk saling kenal-mengenal sangat ditekankan dalam Islam. Kata <em>ta’arafu</em> maksudnya bukan hanya berinteraksi tetapi berinteraksi positif</span><a name="_ftnref3" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">. Karena itu setiap hal yang baik dinamakan dengan <em>ma’ruf</em>. Jadi, dijadikannya makhluk dengan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah dengan harapan bahwa satu dengan yang lainnya dapat berinteraksi secara baik dan positif. Lalu dilanjutkan dengan ayat <em>…inna akramakum ‘indallahi atqakum…</em> Maksudnya, bahwa interaksi positif itu sangat diharapkan menjadi prasyarat kedamaian di bumi ini, namun yang dinilai terbaik di sisi Tuhan atau mereka yang termulia di sisi Tuhan adalah mereka yang betul-betul dekat dengan Allah. Jadi, jelas al-Qur’an memberikan kepada kita alasan rasional penciptaan manusia dengan beragam bangsa, bahasa, suku dan budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Ayat lainnya adalah dalam al-Qur’an surat Hud/11:118 yang artinya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud/11:118).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Dari ayat di atas jelas bahwa kalau Tuhan mau, dengan mudah sekali akan menciptakan manusia semua dalam satu macam, grup, golongan, monolitik, dan satu agama. Tetapi, Allah tidak menghendaki demikian. Dia justru menunjukkan kepada realita bahwa hakikatnya manusia itu berbeda-beda. Inilah kehendak Tuhan. dan atas dasar ini pulalah kita bicara pluralisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Lantas muncul pertanyaan, apakah orang-orang non muslim, yang biasa orang Islam menyebutnya “kafir” itu menerima pahala amal salehnya? Benar!, menurut<span>  </span>al-Baqarah:62, yang diulang dengan redaksi yang agak berbeda pada al-Maidah:69 dan al-Hajj:17.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi’in</span><a name="_ftnref4" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Sayyid Husseyn Fadhullah dalam tafsirnya, sebagaimana dikutip Jalaluddin Rakhmat menjelaskan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Makna ayat ini sangat. Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan bahwa keselamatan pada hari akhirat akan dicapai oleh semua kelompok agama ini yang berbeda-beda dalam pemikiran dan pandangan agamanya berkenaan dengan akidah dan kehidupan dengan satu syarat: memenuhi kaidah iman kepada Allah, hari akhir, dan amal saleh.</span><a name="_ftnref5" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Bahkan menurut Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar, menegaskan bahwa orang yang merasa pasti akan selamat hanya karena dia Islam, Nasrani, atau Yahudi adalah orang yang terbuai atau tertipu (<em>mughtarrin</em>) dengan nama.</span><a name="_ftnref6" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Pertanyaan berikutnya, lantas mengapa harus ada berbagai agama? Kalau semua agama itu valid, kenapa Tuhan<span>  </span>repot-repot membuat agama yang bermacam-macam? Kenapa Allah tidak menjadikan semua agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Al-Qur’an menjawabnya dengan sangat indah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang (<em>syir’atan wa minhajan</em>). Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (<em>fastabiqu al-khairat</em>). Hanya kepada Allah kembali kamu semuanya (<em>ila Allahi marji’ukum jami’a</em>). lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (QS. Al-Maidah/5:48).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Dari ayat ini kita dapat menyimpulkan beberapa hal:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">Agama itu berbeda-beda dari segi aturan (syari’at) dan pandangan hidupnya (aqidah). Karena itu, pluralisme sama sekali bukan untuk menyamakan semua agama, karena perbedaan itu adalah niscaya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">Tuhan sama sekali tidak menghendaki kita semua menganut agama yang tunggal. Keragaman agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua. Ujiannya adalah seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan pada umat manusia. Setiap agama diperintahkan bersaing dengan agama lain dalam memberikan kontribusi kepada kemanusiaan (<em>alkhayrat</em>).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi kembalinya kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. Kita tidak boleh mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apa pun, termasuk dengan fatwa</span><a name="_ftnref7" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[7]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Oleh karenanya bukan hanya kepada sesama umat seagama kita mesti berlaku toleran, bahkan dengan penganut agama lain pun seyogyanya berhubungan dengan baik terhadap mereka yang berbeda agama. Dalamhal ini al-Qur’an menjelaskan demikian:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0.75in 0 0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS. Al-Ankabut/29:46).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span>            </span>Jadi jelas, bahwa yang dikehendaki Tuhan adalah pluralisme, interaksi positif, saling hormat-menghormati antar sesama manusia, meski berlainan warna kulit, suku, etnis, ideology, bahkan agama dengan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> Tulisan ini pernah disampaikan dalam acara “Ngabuburit Jelang Buka Puasa Bersama”, di Sekolah Kuntum Cemerlang, Bukit Cipaku Indah, Bandung, 5 Oktober 2007. </span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn2" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> <em>Koran Tempo</em>, 1 Agustus 2005.</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn3" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Lihat Alwi Shihab, <em>Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam</em>, pengantar dalam buku dengan judul yang sama (Bandung:Nuansa, 2005) h. 16</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn4" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Shabiin, berdasarkan kitab-kitab tafsir, bisa menunjuk pada berbagai agama selain Islam</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn5" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Lihat Jalaluddin Rakhmat, <em>Islam dan Pluralisme Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan</em> (Jakarta: Serambi, 2006), h. 23</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn6" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[6]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid</em>. h. 29</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn7" href="http://ahmadnurcholish.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[7]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> <em>Ibid</em>., h. 33-34</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=249&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/09/03/membangun-generasi-pluralis-bag-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ahmadnurcholish.files.wordpress.com/2008/09/belajar-toleransi.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Zakat sebagai Instrumen Pemberdayaan Umat</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/19/zakat-sebagai-instrumen-pemberdayaan-umat/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/19/zakat-sebagai-instrumen-pemberdayaan-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 04:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dhuafa]]></category>
		<category><![CDATA[pemberdayaan]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif jangka pendek, zakat sudah saatnya dikembangkan menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi umat.
 
 
Ketika subsidi bahan bakar minyak (BBM) dikurangi oleh pemerintah otomatis harga penjualan ke konsumen (masyarakat) menjadi kian melambung. Demonstrasi menentang kenaikan harga BBM pun terus bergulir hingga kini. Mereka datang dari rakyat jelata, mahasiswa, dan juga pengusaha. Meski korban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=91&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif jangka pendek, zakat sudah saatnya dikembangkan menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ketika subsidi bahan bakar minyak (BBM) dikurangi oleh pemerintah otomatis harga penjualan ke konsumen (masyarakat) menjadi kian melambung. Demonstrasi menentang kenaikan harga BBM pun terus bergulir hingga kini. Mereka datang dari rakyat jelata, mahasiswa, dan juga pengusaha. Meski korban telah berjatuhan, pemerintah<span>  </span>tetap <em>keukeuh</em> pada kebijakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Lantas adakah Islam dapat memberikan solusi terhadap problem ini? Adakah instrumen di dalam Islam yang memungkinkan setiap orang bangkit dari problematika kehidupan, khususnya terhadap himpitan ekonomi? Dan bisakah itu dijadikan cara yang tak sekedar memenuhi kebutuhan konsumtif, tetapi juga produktif?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span id="more-91"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Jawabannya ada. Ya, salah satunya melalui zakat. Dalam ajaran Islam ayat-ayat tentang zakat sudah diturunkan kepada Muhammad saw ketika beliau masih berada di Makkah untuk melakukan pembinaan aqidah dan keyakinan ummat. Ayat-ayat itu antara lain Q.S. 30:39 dan QS. 51:19.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tetapi ayat-ayat tersebut baru berisikan penyadaran kepada umat bahwa setiap harta yang kita miliki ada hak orang lain yang membutuhkan, seperti fakir miskin atau kaum dhu’afa (lemah). Juga berisikan penyadaran dan dorongan kuat untuk berzakat. Sebab, zakat itu meskipun kelihatannya mengurangi harta kita, pada hakikatnya justru akan menambah, mengembangkan, dan memberi berkah harta yang kita miliki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pada periode Madaniyyah, ayat-ayat tetang zakat sudah terperinci meliputi rincian tentang golongan yang berhak menerima (<em>mustahiq</em>) zakat (QS.9:60), zakat itu disamping diserahkan langsung oleh orang yang berzakat (<em>muzakki</em>) atas dasar keikhlasan dan kesadarannya, zakat juga harus diambil oleh para petugas yang dikhususkan untuk melakukan kegiatan tersebut (QS. 9:130). Diuraikan pula beberapa komoditas yang termasuk harta yang wajib dikeluarkan zakatnya dengan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi (<em>nishab</em>, persentase zakat, waktu pengeluarannya). Zakat pertanian, tumbuhan, dan hasil tanaman (QS. 6:141), zakat emas dan perak (QS. 9:34-35), zakat peternakan (hadits), zakat perdagangan (hadits), dan zakat hasil usaha (QS. 2:267).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Implementasi zakat di zaman Nabi Muhammad saw dan kemudian diteruskan para sahabatnya, dengan menunjuk<span>  </span>petugas khusus untuk mengambil zakat dari para <em>muzakki</em>, atau <em>muzakki</em> sendiri yang menyerahkan langsung pada <em>bait al-maal</em> (badan pengelola zakat), lalu oleh para petugasnya (amil zakat) diidstribusikan kepada <em>mustahiq</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Lantas bagaimana dengan zakat zaman sekarang? Sesungguhnya, inti dan subtansi zakat tidak ada yang berubah. Hanya saja diperlukan penafsiran kembali tentang beberapa hal yang berkaitan zakat sesuai dengan perkembangan zaman dan kemaslahatan umat. Tentu saja upaya penafsiran tersebut tetap harus mengacu pada kaidah-kaidah yang dapat dipertanggungjawabkan, misalnya melalui <em>qiyas</em> (analogi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Di antara yang perlu mendapatkan penafsiran kembali antara lain: pertama, kriteria <em>mustahiq</em> zakat, misalnya pada <em>asnaf sabilillah</em>. Jika zaman Rasulullah saw dan para sahabat yang termasuk pada <em>asnaf</em> ini adalah sukarelawan perang yang tidak memiliki gaji tetap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pada era sekarang, boleh saja atas nama asnaf ini, seperti diuraikan Didin Hafidhuddin (2002:7), dimasukkan pula pembangunan sarana ibadah, sarana pendidikan, training para da’i, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pembangunan kekuatan umat. Inilah kemudian yang kita sebut dengan pemberdayaan umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kedua, harta obyek zakat. Jika pada masa Nabi saw, peternakan hanya meliputi tiga macam: onta, sapi, dan kambing/domba. Pada era sekarang bisa kita kembangkan meliputi peternakan ayam, itik, lele, dan sebagainya. Begitu juga dengan profesi-profesi yang pada masa Nabi saw tidak ada, tetapi kini bermunculan dan sangat beragaman seperti pengacara, akuntan publik, motivator, dll.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nah, ternyata bila dilihat dalam nash-nash yang bersifat umum, seperti dalam QS. 9:103 dan QS. 2:267, maka semua harta yang belum ada contohnya di zaman Nabi Muhammad menjadi “harta yang bernilai”, maka jika memenuhi syarat wajib zakat, harus dikeluarkan zakatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ketiga, pada masa itu, bahkan kecenderungan hingga saat ini, penyaluran zakat masih ditekankan pada pembagian yang bersifat konsumtif. Nampaknya, susdah saatnya kini perlu ditekankan pada pembagian yang bersifat produktif, meskipun tentunya tetap memerhatikan aspek konsumtif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mengapa hal ini perlu kita lakukan? Pada pembagian konsumtif, para penerima zakat biasanya hanya tertolong dalam jangka waktu pendek: sehari, seminggu, paluing lama sebulan. Tetapi, jika kita mau mengembangkan bagaimana agar zakat memiliki daya manfaat yang lebih panjang untuk <em>mustahiq</em>-nya, maka harus diberikan dalam kerangka pemberdayaan (ekonomi) umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hal itu dapat direalisasikan dengan cara memberikan zakat pada para mustahiq melalui tahapan-tahapan yang dapat menguatkan daya juang dan kemampuan untuk surfive menjalani hidup. Tahapan-tahapan itu antara lain seperti melalui <em>training</em> pemberdayaan (<em>community development</em>), pemberian zakat sebagai modal usaha, juga pendampingan pada mustahiq ketika menjalankan bidang usahanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tiga tahapan tersebut seyogyanya diberikan secara simultan (berkelanjutan) agar fungsi zakat untuk pemberdayaan umat lebih mudah direalisasikan. Dengan demikian visi yang harus kita tanamkan adalah bagaimana zakat ini bukan sekedar untuk kebutuhan konsumtif yang bersifat jangka pendek, tetapi lebih produktif dalam kerangka jangka panjang. Sekaligus pula memiliki visi hari ini dan tahun ini para <em>mustahiq</em> menjadi penerima zakat, tahun depan mereka berubah menjadi pemberi zakat. [ ] Ahmad Nurcholish</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=91&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/19/zakat-sebagai-instrumen-pemberdayaan-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merdeka dalam Kebhinekaan</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/15/merdeka-dalam-kebhinekaan/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/15/merdeka-dalam-kebhinekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 04:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[kebhinekaan]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Enam puluh tiga tahun sudah kita merdeka. Tetapi, rasa kebersamaan dalam berbangsa dan bertanah air justru makin kering. Masih adakah harapan untuk hidup bersama dalam kebhinekaan?
 
Pada awal kemerdekaan, sumber konflik sosial berdarah berakar pada masalah politik dan ideologi. Kini, bahkan sejak akhir abad ke-20 berganti wajah menjadi konflik agama dan identitas etnis. Perbedaan agama, atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=34&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Enam puluh tiga tahun sudah kita merdeka. Tetapi, rasa kebersamaan dalam berbangsa dan bertanah air justru makin kering. Masih adakah harapan untuk hidup bersama dalam kebhinekaan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pada awal kemerdekaan, sumber konflik sosial berdarah berakar pada masalah politik dan ideologi. Kini, bahkan sejak akhir abad ke-20 berganti wajah menjadi konflik agama dan identitas etnis. Perbedaan agama, atau kelompok etnis, saat ini telah berubah menjadi sumber bencana, bukan lagi menjadi sumber kekuatan bangsa. Kredo Bhineka Tunggal Ika pun terasa sudah mati suri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> <span id="more-34"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pasca keruntuhan Soeharto, situasi memang berubah. Partai politik dengan basis pemeluk Islam bangkit dan terus merangsek untuk mendapatkan pengikut. Mereka menggotong isu syari’at Islam. Langkah ini, seperti pernah dikatakan Ichsan Malik, disambut partai politik yang basisnya bukan identitas agama atau dengan basis agama non-Islam. Mereka terseok-seok dengan isu nasionalisme atau isu pembangunan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam waktu yang sama kekuatan ekstra parlementer pun bangkit. Bangkitnya kembali kekuatan massa jalanan yang agresif dan intimidatif<span>  </span>untuk menjalankan misi masing-masing. Semua orang atau kelompok yang berbeda atau mengancam misi kelompoknya harus dienyahkan. Toleransi kepada pihak lain dianggap sebagai kelemahan dan bisa mengancam keberadaan kelompok (mayoritas).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tragedi 1 Juni di Silang Monas dan ”terusirnya” mahasiswa STT Setia Jakarta adalah contoh mutakhir bagaimana kekuatan massa jalanan dengan balutan jubah agama<span>  </span>mampu mengusir keberadaan kelompok tak berdosa itu. Batas siapa yang benar dan siapa yang salah pun ditentukan oleh siapa yang kuat dalam melakukan aksi di lapangan. Pemerintah, melalui aparatnya, <span> </span>seolah juga ”tunduk” pada aksi-aksi jalanan tersebut. Mereka yang jadi korban (Ahmadiyah, AKKBB, STT Setia, Lia Eden, dll) pun justru dipersalahkan karena tidak mau mengikuti ”kebenaran” yang dimiliki oleh kelompok mayoritas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Inikah yang disebut merdeka? Inikah yang mesti kita banggakan dengan kebhinekaan kita, yang pada awal kemerdekaan menjadi kekuatan dahsyat untuk membangun bangsa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam ajaran Islam Allah Swt. menjelaskan bahwa sesungguhnya umat manusia di bumi ini diciptakan dengan beragam bangsa, etnis, bahasa, dan sebagainya, justru supaya saling mengenal dan menghargai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">”&#8230;Kami <span> </span>jadikan kamu <span> </span>beberapa bangsa dan suku bangsa, agar kamu saling mengenal (bukan supaya saling membenci). (Q.S. Al-Hujarat/49:13).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kata <em>li-ta’arafu</em> (agar kamu saling mengenal) dalam bahasa Arab merupakan kalimat aktif dan bukan pasif. Dengan demikian perintah untuk mengenal yang lain suku, bahkan lain bangsa merupakan suatu keharusan sebagai bentuk penghargaan atas kebhinekaan yang dianugerahkan Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kebhinekaan, kemajemukan atau pluralitas yang kemudian meningkat menjadi pluralisme, yaitu suatu sistem nilai yang melihat secara positif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa perbedaan antara manusia dalam bahasa dan warna kulit harus diterima sebagai kenyataan yang positif, yang merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah (Q.S. 30:22).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam soal agama, Allah Swt juga menegaskan bahwa semua pemeluk agama, baik Yahudi, Kristen, bahkan Sabian, asal mereka tetap beriman kepada Allah dan hari kiamat serta berbuat baik, mereka akan ”masuk surga” dan ”terbebas dari neraka”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">”Sesungguhnya mereka kaum yang beriman (kaum Muslim), kaum Yahudi, kaum Nasrani, kaum Sabian, siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berbuat kebaikan, maka tidak ada rasa takut menimpa mereka dan mereka pun tidak perlu khawatir (Q.S. Al-Baqarah/2:62).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Atas ayat ini, A. Yusuf Ali menjelaskan bahwa ”Karena pesan Tuhan itu satu [sama], maka agama Islam mengakuikeimanan yang benar dalambentuk-bentuk lain, asalkan keimanan itu tulus, didukung oleh akal sehat, dan ditunjang oleh tingkah laku yang penuh kebaikan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Komentar Yusuf Ali ini sejalan dengan keterangan yang diberikan Muhammad Asad. Menurutnya, ayat 62 dalam al-Baqarah di atas diturunkan untuk menegaskan bahwa siapa pun dapat memeroleh ”keselamatan” (<em>salvation</em>), asalkan dia beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian dan berbuat baik, tanpa memandang apakah dia itu keturunan Nabi Ibrahim seperti Yahudi (dan kaum Quraisy di Makkah) atau bukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kini, seolah kita lupa akan ajaran-ajaran mulia dari Kitab Suci itu. Kita juga lupa, atau mungkin tidak tahu dengan aopa yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i: ”Pendapatku benar, tapi mungkin saja salah. Sebaliknya, pendapat orang lain salah, tapi bisa saja benar”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Karenanya, jika kita merasa merdeka dan ingin orang lain merasakan kemerdekaan itu, jangan tunda lagi untuk menerima kemejemukan di antara kita dan menghargainya sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang diberikan-Nya. Jangan biarkan orang lain yang berbeda dengan kita merasa terancam atas keberadaan kita, karena kita punya hak yang sama di bumi pertiwi ini. [ ] Ahmad Nurcholish</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=34&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/15/merdeka-dalam-kebhinekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Isra’ Mikraj dalam Beragam Pandangan</title>
		<link>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/15/isra%e2%80%99-mikraj-dalam-beragam-pandangan/</link>
		<comments>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/15/isra%e2%80%99-mikraj-dalam-beragam-pandangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 04:26:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmadnurcholish</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[israk mikraj]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi MUhammad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadnurcholish.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian Muhammad Saw. adalah perjalanan Isra’ Mi’raj sebagaimana dinarasikan dalam QS. Al-Isra’: 1. Perjalanan tersebut menjadi saksi sejarah yang monumental dan spektakuler, sehingga tetap aktual hingga dewasa ini. Oleh karenanya tidak mengherankan jika umat Islam memberikan perhatian khusus dengan memeringatinya setiap tahun, yang tahun ini jatuh pada Rabu, 30 Juli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=31&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Salah satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian Muhammad Saw. adalah perjalanan Isra’ Mi’raj sebagaimana dinarasikan dalam QS. Al-Isra’: 1. Perjalanan tersebut menjadi saksi sejarah yang monumental dan spektakuler, sehingga tetap aktual hingga dewasa ini. Oleh karenanya tidak mengherankan jika umat Islam memberikan perhatian khusus dengan memeringatinya setiap tahun, yang tahun ini jatuh pada Rabu, 30 Juli 2008. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> <span id="more-31"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Peristiwa Isra’ Mi’raj menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun kesebelas dari masa kenabian beliau. Perjalanan malam (Isra’) tersebut dimulai dari Masjid al-Haram di Mekah ke Masjid al-Aqsha di Palestina, kemudian dilanjutkan dengan Mi’raj (naik) ke langit menuju Sidrat al-Muntaha dan kembali lagi ke Mekah menjelang terbitnya fajar pada malam (dini hari) itu juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Perjalanan yang luar biasa, dengan waktu yang relatif singkat menembus ruang dan waktu, menjadikan peristiwa tersebut sulit dijangkau oleh akal pikiran manusia. Bagaimana mungkin jarak dari Mekah ke Palestina yang masa itu (600-an Masehi), dengan mengendarai onta, memerlukan waktu 2<span>  </span>bulan, kemudian berlanjut dengan naik ke langit tertinggi dapat ditempuh hanya dalam 1 malam? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Oleh karenanya wajar jika peristiwa itu banyak diragukan orang-orang Quraisy pada masa Nabi Muhammad. Bahkan Ummu Hani’, putri paman Nabi, Abu Thalib, yang malam itu berada di rumah Nabi Muhammad langsung berkata, “Hai Nabiullah, sebaiknya peristiwa tadi malam itu jangan diberitahukan kepada orang-orang, sebab pasti mereka akan mendustakan dan menyakitimu”. Tetapi Rasulullah saw. yang dikenal berjiwa besar sekaligus bergelar <em>al-Amin</em> (jujur/terpercaya) itu menjawab, “Demi Allah hal itu pasti akan kusampaikan kepada mereka, apapun akibatnya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Keterkaitan Sejarah </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Terlepas dari itu, perjalanan Nabi dengan kendaraan Buraq, didampingi oleh Malaikat Jibril dan Mikail ini (MA. Rathomy, 1983:53), menjadi simbol dari kesatuan risalah yang dibawa oleh para rasul sebelumnya. Masjid al-Haram yang di tengahnya berdiri Ka’bah (<em>bayt al-Allah</em> – rumah Tuhan) dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya Ismail. Sedang Masjid al-Aqsha yang dibangun semasa Nabi Sulaiman merekam sejarah gemilang masa lalu dari generasi Bani Israil yang banyak diangkat menjadi utusan Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Keterkaitan historis dari kedua tempat suci tersebut menandakan terjalinnya risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw dengan risalah (ajaran) para nabi terdahulu. Ini sekaligus menunjukkan bahwa, <em>pertama</em>, <span> </span>ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. bukanlah risalah yang baru sama sekali, melainkan keberlanjutan dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh nabi-nabi/ rasul-rasul sebelumnya. Ajaran Islam yang didakwahkan nabi Muhammad inilah yang kemudian diyakini oleh pemeluknya sebagai penyempurna ajaran-ajaran sebelumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kedua</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">, Mikraj Nabi Muhammad ke langit tertinggi (<em>sidrat al-munthaha</em>), dimaksudkan untuk mendapat pencerahan spiritual langsung dari Allah. Sebagaimana diketahui, melalui mikraj inilah beliau menerima perintah shalat lima waktu bagi pengikutnya dalam sehari semalam. Ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah shalat bagi umat Islam. Sebab melalui shalat inilah manusia sebagai makhluq dapat berhubungan, berkomunikasi langsung dengan Tuhannya. Bacaan-bacaan serta ritual dalam shalat mengandung pesan moral yang teramat tinggi. Hal inilah yang akan dapat mempertajam aspek spiritual manusia sekaligus mengasah kecerdasan sosial juga emosional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Persepektif Sufistik </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Peristiwa Isra’ Mikraj oleh kalangan sufi dipahami sebagai pengalaman spiritual (mistik) Nabi Muhammad yang sangat tinggi, yang diisyaratkan dalam kata-kata “Masjid Aqsha” (masjid yang terjauh), “al-Ufuq al-A’la” (cakrawala tertingi) dan “Sidrat al-Muntaha” (Sidrah yang terakhir). Ketinggian pengalaman spiritual Nabi dibandingkan oleh Farid al-Din ‘Athar dalam <em>Warisan Para Wali</em>, seperti dikutip Mulyadi Kertanegara (2000:183), sebagai puncak pengalaman spiritual manusia, di mana sufi yang tertinggi hanya akan sampai pada tahap awal perjalannya. Pemerian Isra’ Mi’raj dalam arti yang sufistik, barangkali terbit dari hadits yang mengatakan bahwa shalat merupakan mi’rajnya kaum Muslimin, yang tentunya tidak dapat diartikan sebagai perjalanan badani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam persepektif sufistik, mi’raj tidak diartikan perjalanan Nabi ke luar angkasa (langit-langit), tetapi ke dalam lubuk hati yang paling dalam di mana ia menemukan dirinya berada dalam ‘kehadiran Tuhan’. Atau meminjam istilah Iqbal “tidak bersifat ekstensif, melainkan intensif”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sementara Jibril yang menemani Nabi dalam Isra’ Mi’raj oleh Jalal al-Din Rumi ditafsirkan sebagai symbol intelek yang dapat membimbing manusia dengan berbagai cara menuju gerbang kekasih (Tuhan), ia takut kalau-kalau cahaya Tuhan yang dapat melahap apa saja, membakar sayap-sayapnya. Dalam konteks inilah menurut Husayn Haikal, maka dalam peristiwa tersebut, dibukakanlah semua tabir rahasia langit dan bumi, melalui daya penglihatan batin <em>(‘ayn/ vision</em>), sehingga teranglah kepada Nabi awal kejadian dunia dan kesudahannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Persepektif Modernis </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Isra’ Mi’raj, seperti ditulis Mulyadi Kertanegara, bukan hanya mengilhami pujangga terkenal Italia Dante untuk menulis <em>The Divine Comedy</em>, tetapi juga modernis Iqbal untuk menulis pengalaman batinnya dalam bukunya <em>Javid-Nameh</em> (buku keabadian). Di sini, dengan bimbingan Rumi (yang dalam hal ini bertindak sebagai Jibril atau Virgil dalam versi Dante), ia menceritakan perjalanan spiritualnya ke tempat yang mulia di mana ia berjumpa dengah arwah para pemikir besar dunia untuk membincangkan beragam persoalan politik, sosial dan keagamaan. Perjalanan spiritual ini melalui berbagai langit dan berakhir dengan berdirinya dia sendirian dalam hadirat Tuhan yang “terus tumbuh tanpa habis-habisnya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sedangkan Fazlur Rahman, modernis terkemuka, keberatan dengan nama yang mengacu Masjid Aqsha yang ada di Palestina. Sebab nama itu baru diberikan kepadanya setelah masa ‘Umar Ibn Khaththab. Selain itu Siti ‘A’isah, istri termuda Nabi, menyebutkan bahwa pada saat itu Nabi tetap berada di tempatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Adapun tiga ungkapan yaitu Masjid Aqsha, Ufuq al-A’la, dan Sidrat al-Muntaha merupakan symbol yang makna sebenarnya bisa ditafsirkan bermacam-macam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bagi Iqbal, peristiwa Isra’ Mi’raj justru membuktikan bahwa Tuhan bukanlah prima causa yang bisu dan jauh terpencil, seperti disangkakan para filosof, tetapi suatu kekuatan pribadi (personal) yang bisa diarahkan. Dengan itu ia membuktikan bahwa ada kemungkinan bagi suatu dialog personal yang membuahkan antara Khaliq dan Makhluq, yaitu dialog dalam shalat, dari mana kegiatan keagamaan yang besar dapat tumbuh. Dan di sinilah barangkali makna sebenarnya dari hadits Nabi yang menjelaskan bahwa shalat adalah mi’rajnya kaum Muslimin. [ ] Ahmad Nurcholish</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahmadnurcholish.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahmadnurcholish.wordpress.com&blog=4451559&post=31&subd=ahmadnurcholish&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadnurcholish.wordpress.com/2008/08/15/isra%e2%80%99-mikraj-dalam-beragam-pandangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04542313ee3532020ec7b15730d99ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmadnurcholish</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>